Thursday, May 12, 2016

Limbah Kelapa Sawit Untuk Pakan Ternak

Limbah yang dihasilkan dari kebun maupun industri pengolahan kelapa sawit, telah dinyatakan beberapa peneliti sangat bermanfaat sebagai pakan ternak terutama ruminansia dan unggas. Limbah sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak yaitu berupa daun, pelepah, tandan kosong, cangkang, serabut buah, batang, lumpur sawit, dan bungkil kelapa sawit. Limbah ini mengandung bahan kering, protein kasar dan serat kasar yang nilai nutrisinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pakan ternak ruminansia. Apabila untuk dijadikan pakan ternak unggas perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu seperti fermenasi ataupun amoniasi untuk meningkatkan nilai nutrient serta mnurunkan kandungan serat kasarnya.

Kandungan Nutrisi Limbah Kelapa Sawit
Bila ditinjau dari segi potensi kandungan gizi/ nutrien limbah sawit sangat memungkinkan untuk digunakan sebagai pakan ternak. Hasil beberapa penelitian yang dilaporkan menunjukkan bahwa limbah sawit mempunyai kandungan gizi pakan yang bervariasi tergantung jenis limbah. Berikut ini adalah kandungan nutrientnya: 
Kandungan Nutrisi Limbah Kelapa Sawit

Peningkatan Kandungan Nutrient Limbah Kelapa Sawit.
Menurut Mathius et al., (2003) diketahui bahwa sebagian besar limbah kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Selanjutnya bila produk limbah kelapa sawit dimanfaatkan untuk ternak dapat menyebabkan kekurangan nutrien sehingga menurunkan produktivitas. Menurut Sudaryanto (1999) ada empat macam perlakuan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas limbah sawit yaitu perlakuan fisik, kimia, fisik dan kimia, serta biologi. 

Perlakuan fisik berupa pemotongan, penggilingan, perendaman, perebusan, dibuat pelet atau penjemuran/pengeringan ; perlakuan kimia yaitu menggunakan bahan kimia misalnya NaOH, Ca (OH)2, amonium hidroksida, urea, sodium karbonat, sodium klorida dan lain-lain; perlakuan fisik dan kimia adalah menggabungkan kedua cara di atas ; perlakuan biologi dilakukan dengan menambah enzim, jamur, bakteri atau lainnya. Perlakuan fisik yang dapat dilakukan pada limbah sawit yaitu pencacahan agar menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga layak untuk dikonsumsi ternak. Perlakuan lain yang dapat dilakukan yaitu fermentasi dengan menggunakan probiotik atau starter, pembuatan silase atau penguapan.

Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Untuk Pakan Ternak
Pemanfaatan limbah sawit untuk pakan ternak ruminansia telah banyak diterapkan. Penggantian dedak padi dengan Lumpur sawit dalam ransum sapi perah sampai 100% tidak mempengaruhi pertumbuhan dan produksi susu, bahkan ada kecenderungan kadar proteinnya naik (Sutardi, 1991). Penggunaan Lumpur sawit dalam pakan domba dapat memberikan tingkat kecernaan protein yang cukup tinggi (Devendra, 1977), sementara pemakaian bungkil inti sawit untuk domba sampai 22 % tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, daya cerna protein dan retensi nitrogen (Agustin, 1996). 

Namun pemakaian limbah sawit untuk pakan ternak unggas sangat terbatas disebabkan oleh nilai gizinya yang rendah (tingginya serat kasar dan adanya protein yang sulit dicerna). Untuk peningkatan pemakaian limbah sawit ini dalam ransum pakan unggas, sangat perlu dilakukan peningkatan nilai gizinya.

Limbah Kelapa Sawit Untuk Pakan Ternak

Elisabeth dan Ginting (2003) menunjukkan bahwa limbah sawit berupa campuran pelepah (60%), lumpur sawit (18%) bungkil inti sawit (18%), dedak (4%), urea (0,4%) dan garam (0,1%) dengan kandungan protein hanya 7,8% memberikan pertambahan bobot hidup sapi jantan sebesar 0,58 kg/hari dan lebih ekonomis dibandingkan dengan pakan lain. Batubara et al. (2003) juga menunjukkan bahwa pemberian pakan menggunakan daun sawit, lumpur, bungkil inti sawit (diolah atau tanpa diolah) memberikan pertambahan bobot hidup kambing sangat nyata lebih tinggi (53-77 g/hari; kandungan PK 12-14,5%).
Baca Juga: Penggunaan Kulit Kopi Sebagai Pakan Ternak
Jenis Jenis Limbah Kelapa Sawit
1. Pelepah Sawit
Menurut Purba et al., (1997), pelepah sawit diperoleh dari hasil pemangkasan pada saat panen ataupun pemangkasan yang dilakukan rutin 6 bulan sekali. Pelepah yang dihasilkan pada umumnya belum dimanfaatkan secara optimal sementara menurut Sitompul (2003) pelepah sawit merupakan sumber pakan bagi ternak untuk mensubstitusi pakan hijauan. Selanjutnya menurut Purba et al., (1997) mengacu pada kandungan gizi dan nilai kecernaan pelepah sawit (48%), maka kontribusi energi pelepah sawit diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok sehingga untuk pertumbuhan, bunting dan laktasi diperlukan pakan tambahan sehingga kekurangan protein dan energi dapat terpenuhi. 

Kendala utama yang dihadapi dalam pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan ternak adalah rendahnya protein kasar dan terikatnya serat kasar pada lignin, sehingga penggunaannya maksimal 50% dalam pakan untuk ternak domba atau kambing sedang menurut Wan Zahari et al., (2003) pemanfaatan pelepah sawit untuk ternak tidak melebihi dari 30% dan pemberian pelepah dalam waktu panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik. Menurut Abu Hasan dan Ishida (1991) yang disitasi Mathius et al., (2003) pemanfaatan pelepah sawit untuk ternak ruminansia dapat dilakukan dalam bentuk silase yang dikombinasikan dengan bahan lain atau konsentrat sebagai campuran

2. Lumpur Sawit
Lumpur sawit merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pemerasan buah sawit untuk menghasilkan minyak sawit kasar atau crude palm oil (CPO). Jumlah produksi lumpur sawit sangat tergantung dari jumlah buah sawit yang diolah (Sinurat, 2003). Pemanfaatan lumpur yang dihasilkan dari industri pengolahan kelapa sawit masih belum dilakukan untuk tujuan ekonomi. Pada umumnya lumpur sawit digunakan sebagai penimbun jurang atau bahkan dibuang sehingga menimbulkan polusi. Menurut Suharto (2003), pemanfaatan lumpur sawit memberikan hasil ganda yaitu menambah persediaan bahan pakan dan mengurangi polusi. 

Kekurangan dari lumpur sawit yaitu tingginya kadar air, hal ini kemungkinan yang menyebabkan kurang disukai. Pemanfaatan lumpur sawit untuk ternak tidak bisa tunggal karena kandungan energi rendah dan abu yang tinggi sehingga penggunaannya harus dicampur dengan bahan pakan lain (Mathius et al., 2003). Menurut Sinurat (2003) untuk meningkatkan kualitas gizi lumpur sawit dapat dilakukan dengan fermentasi menggunakan Aspergillus niger. Selanjutnya diketahui bahwa produk yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan A. niger mengandung enzim mananase dan selulose. Enzim yang dihasilkan selama proses fermentasi diharapkan dapat memecah serat sehingga menjadi molekul karbohidrat yang lebih sederhana dan meningkatkan energi yang dapat dimetabolisme oleh ternak.

Penelitian yang dilakukan oleh Widjaja dan Utomo (2001) bahwa pemberian solid/ lumpur sawit untuk ternak sapi PO jantan memberikan PBBH yang nyata lebih tinggi dibanding pakan kontrol. PBBH yang dihasilkan dari sapi yang diberi pakan solid ad libitum dan rumput sebesar 0,77 kg/ekor sedang pemberian 1,5% solid dari BB ternak dihasilkan PBBH 0,44 kg/ekor.
Baca Juga: Cara Fermentasi Kulit Singkong Untuk Pakan Ternak
3. Bungkil Inti Sawit
Bungkil inti kelapa sawit adalah salah satu hasil ikutan industri kelapa sawit dimana produksinya cukup metimpah. Karena itu upaya penggunaan limbah ini untuk pakan telah pula dilakukan yakni sebagai sumber energi atau protein. (Devendra, 1977). Namun demikian bungkil inti ketapa sawit dikenal sebagai pakan yang kurang disukai ternak karena sifatnya yang kering dan kasar seperti pasir serta tingginya serat kasar (Ravindran dan Blair, 1992). 
Bungkil inti kelapa sawit untuk pakan ternak
Batas penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum ayam broiler dilaporkan bervariasi dari 5-20% (Ahmad, 1982:Kamal,1984) dan dapat digunakan hingga 40 % dalam ransum ayam petelur (Perez et al., 2000 dalam Sinurat dan Manurung, 2005). Peningkatan mutu bungkil inti sawit diharapkan dapat pula meningkatkan pemakaiannya dalam ransum unggas. Seperti halnya Lumpur sawit, peningkatan mutu bunkil inti sawit dapat ditakukan dengan fermentasi. Fermentasi terhadap Bungkil Inti Sawit menyebabkan adanya perubahan kandungan nutrisi bahan, dimana kandungan protein kasar fospor dan abu serta energi metabolisme Bungkil Inti Sawit terfermentasi dan cenderung naik

4. Daun Kelapa Sawit
Daun kelapa sawit merupakan salah satu hijauan yang disukai oleh ternak sapi, daun dihasilkan dari tunas panen yang dilakukan saat pemanenan tandan buah segar (Sitompul, 2003). Pemanfaatan daun kelapa sawit harus dibuang dulu lidinya karena akan memberikan pengaruh kurang aman terhadap ternak. Daun kelapa sawit dapat diberikan segar untuk ternak sapi, namun bila diberikan lebih dari 20% perlu pengelolaan awal untuk meningkatkan nilai biologisnya (Winugroho dan Maryati, 1999). Dalam penelitian Batubara (2002), pemberian daun kelapa sawit tanpa lidi sebanyak 40% dan konsentrat memberikan PBBH pada sapi jantan muda sebesar 0,76 kg/ekor dan nilai B/C 1,5.

5. Serat Perasan
Serat perasan merupakan hasil ekstraksi minyak sawit, mempunyai kandungan gizi dan nilai kecernaan (24-30%) yang rendah sehingga pemanfaatannya belum banyak disarankan (Mathius, et al., 2003) .

6. Tandan Kosong
Tandan kosong sawit (TKS) merupakan limbah dari pabrik kelapa sawit (PKS) yang jumlahnya sekitar 55-58% dari Tandan buah segar. Pemanfaatannya disarankan agar dicampur dengan bahan pakan lain yang berkualitas. Pemanfaatan tandan kosong untuk ternak sapi harus diberikan perlakuan fisik agar dihasilkan ukuran yang mudah untuk dikonsumsi ternak (± 2 cm), pemberiannya antara 30-50%.

7. Batang Sawit
Menurut Ginting, et al., (1997), pemanfaatan silase pelepah dan batang kelapa sawit dapat menggantikan 25-50% pakan konsentrat untuk ternak ruminansia. Perlakuan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan dari pelepah dan batang kelapa sawit dengan proses fermentasi menjadi silase, pengolahan dengan perlakuan NaOH dan perlakuan uap. Mathius, et al., (2003) bahwa pemberian batang sawit sebanyak 30% dan 70% konsentrat menghasilkan PBBH antara 0,66-0,72 kg/ekor.

Sumber: 
  1. Agustin, F. 1996. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit (palm kernel cake) dalam ransum domba terhadap daya cerna protein dan retensi nitrogen. Jurnal Peternakan dan Lingkungan . 2 (1) : 21-24
  2. Batubara, L.P. 2003. Potensi integrasi peternakan dan perkebunan kelapa sawit sebagai simpul agribisnis ruminansia. Wartazoa 13 (3): 83-91 . Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
  3. Devendra, C. 1977. Utilization of Feedingstuffs from the Oil Palm. Malaysian Society of Animal Productions. Serdang Malaysia.
  4. Ginting, S. P., dan J. Elisabeth. 2003. Teknologi pakan berbahan dasar hasil sampingan perkebunan kelapa sawit. Prosiding Lokakarya Nasional: Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu 9-10 September 2003. P. 129-136.
  5. Mathius, I. W., D. Sitompul, B.P. Manurung Dan Asmi. 2003. Produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk: Suatu tinjauan. Pros. Lokakarya Nasional: Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu 9-10 September 2003. hlm. 120-128.
  6. Purba, A., S. P. Ginting, Z. Poeloengan, K. Simanihuruk dan Junjungan. 1997. Nilai nutrisi dan manfaat pelepah kelapa sawit sebagai pakan domba. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 5 (3) : 161-177.
  7. Ravindran, V. And R. Blair. 1992. Feed resources for poultry production in Asia and the Pasific II . PlantProtein Sourrces World's . Poult. Sci. J . 48: 206-231
  8. Sinurat, A. P. 2003. Pemanfaatan lumpur sawit untuk bahan pakan unggas. Wariazoa 13 (2): 39-47 . Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Banjarbaru, 22- 23 Agusrus 2005. P. 3-9.
  9. Sitompul, D. 2003. Desain pembangunan kebun dengan sistem usaha terpadu ternak sapi Bali. Prosiding Lokakarya Nasional : Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu, 9-10 September 2003. P. 81-88.
  10. Sudaryanto, B. 1999. Peluang penggunaan daun kelapa sawit sebagai pakan ternak ruminansia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1-2 Desember 1998. P. 428- 433 
  11. Suharto. 2003. Pengalaman pengembangan usaha sistem integrasi sapi-kelapa sawit di Riau. Prosiding Lokakarya Nasional: Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu 9-10 September 2003. P. 57-63.
  12. Sutardi. 1991. Aspek nutrisi 5api Bali . Prosiding Seminar Sapi Bali. Fakultas Peternakan UNHAS, Ujung Pandang. Hat. 85-109 .
  13. Winugroho, M., Dan Maryati. 1999. Kecernaan Daun Kelapa Sawit Sebagai Pakan Ternak Ruminasia. Laporan APBN 1998/1999. Balai Penelitian Ternak. Bogor. 

Ketentuan berkomentar :

* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati

* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
EmoticonEmoticon