Monday, November 10, 2014

Makalah Penyakit Snot atau coryza

BAB 1
PENDAHULUAN

Penyakit coryza sudah akrab di telinga para peternak.Tanda penyakit tersebut juga mudah dikenali baik oleh peternak skala kecil maupun besar.Nama lainnya adalah snot atau pilek yang menjadi ciri khasnya.Hampir semua jenis unggas mudah terserang penyakit ini, diantaranya ayam pedaging, petelur, buras (kampung), merpati, itik maupun puyuh.Coryza bisa menyerang ayam pada semua umur, khususnya mulai umur 3 minggu sampai masa produksi.

Peternak seringkali hanya tahu bahwa coryza merupakan suatu penyakit pernapasan (dilihat dari tanda khasnya), padahal coryza juga menyebabkan penurunan produksi telur.Pada ayam pedaging, penyakit ini juga mengganggu pertumbuhan ayam sehingga ayam sulit mencapai berat standar. Kerugian yang lainnya ialah tingginya biaya pengobatan, ayam menjadi mudah terserang penyakit lain atau penyakit menjadi komplek sehingga penyakit semakin sulit diatasi (ayam disembuhkan) dan seringkali berakhir dengan kematian.

Meskipun korisa tidak menyerang sistem reproduksi, bukan berarti tidak menyebabkan penurunan produksi telur.Penurunan nafsu makan menyebabkan nutrisi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga produksi telur pun terganggu.Bahkan penurunan produksi dapat mencapai 10-40%.Akibat korisa, angka pengafkiran relatif tinggi serta terjadi peningkatan biaya untuk pengobatan.Pada ayam pedaging mengakibatkan pertumbuhan terganggu sehingga bobot badan tidak tercapai. Mencegah korisa pun bisa dibilang gampang-gampang susah. Hal ini terbukti berdasarkan hasil pemantauan tenaga lapangan Medion tahun 2007-2009, korisa selalu menduduki peringkat pertama pada ayam petelur.

BAB II
ISI

A.    ETIOLOGI
Penyakit Snot atau coryza disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum.Coryza Infeksi (IC) adalah penyakit infeksi bakteri menular pernafasan beberapa spesies burung. Penyebab penyakit adalah bakteri Haemophilus paragallinarum. Termasuk bakteri gram negatif dan non motil, bentuk batang pendek dan berukuran 1-3 x 0,4-0,8 um. Bakteri yang ganas mempunyai kapsul dan mengalami degenerasi dalam waktu 48-60 jam, dalam bentuk fragmen dan bentuk yang tidak teratur.Organisme penyebabnya diketemukan pertama kali oleh Beach pada tahun 1920 (Akoso, 1992).
Serotipe yang diketahui yaitu serovar A, B dan C. strain Modesto (M) termasuk serovar C. Ketiga strain tersebut ada yang menguraikan sebagai serovar I, II, dan III, tetapi menurut penelitian terakhir bahwa serovar II dan III merupakan varian dari serovar I.

B.     PATOGENESA
Ada 3 jenis antigen dalam bakteri ini yaitu lipopolisakarida yang diisolasi dari cairan supernatant biakan dari strain serovar A dan C. antigen polisakarida yang diisolasi dari strain serovar A dan C yang menyebabkan hidropericardium pada ayam. Antigenketiga adalah asam hialuronik mengandung kapsul yang menyebabkan gejala coryza.

C.    EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Beach pada tahun 1920 dan berhasil diisolasi pada tahun 1931 yang diberi nama Bacillus hemoglobinophilus coryzae gallinarum. Penyakit ini bersifat endemidi dunia. Di Indonesia ditemukan tersebar luas dan endemik.

D.    JENIS UNGGAS TERSERANG
Ayam menjadi hospes utama penyakit ini.Unggas lainnya juga terserang seperti kuau, ayam mutiara, dan puyuh.Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relative tahan.
Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibody maternal.

E.     CARA PENULARAN
Bakteri Haemophillus gallinarum hanya dapat bertahan diluar induk semang tidak lebih dari lebih dari 12 jam. Penularan penyakit Snot atau coryza dapat melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit juga dapat melalui udara, debu, pakan, air minum, petugas dan peralatan yang digunakan.

F.     MORBIDITAS DAN MORTALITAS
Tingkat morbiditas tinggi sedangkan mortalitas rendah. Jika ada komplikasi penyakit lain seperti cacar ayam, CRD, IB, kolera unggas dan ILT mortalitas menjadi tinggi.

G.    GEJALA UMUM
Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam setelah infeksi atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri. Ayam terserang ditandai dengan gejala pernafasan yaitu:
1.    Pengeluaran cairan air mata
2.    Keluar lendir dari hidung, kental berwarna kekuningan dan berbau khas
3.    Pembengkakan di daerah sinus infraorbitalis
4.    Terdapat kerak dihidung
5.    Napsu makan turun
6.    Pertumbuhan menjadi lambat.
7.    Kelopak matannya menjadi lengket.
8.    Nanah pada mata berbau busuk yang dapat mengerak disekitar lubang hidung dan mengkeju disekitar lubang hidung dan sinus.
Angka kematian dapat mencapai 50%, tetapi bila tanpa komplikasi dengan penyakit ikutan biasanya hanya mencapai 20% atau kurang (Akoso, 1992).

H.    DIAGNOSA
Penyakit didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau plat, AGP dan HI. Dengan AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.

I.       DIAGNOSA BANDING
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD, kolera unggas kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang mirip dengan coryza.

J.      PENGOBATAN
Pengobatan Snot yang diberikan adalah preparat sulfat seperti sulfadimethoxine atau sulfathiazole. Seorang penulis menyebutkan pengobatan tradisional juga dilakukan dengan memberikan susu bubuk yang dicampur dengan air dan dibentuk sebesar kelereng sesuai dengan bukaan mulut ayam dan diberikan 3 kali sehari.  
Sedangkan pengobatan tradisional lain yang dapat dilakukan adalah memberikan perasan tumbukan jahe, kunir, kencur dan lempuyang. Air perasan ini dicampurkan pada air minum.Selain ramuan ini menghangatkan tubuh ayam, ramuan ini juga berkhasiat untuk menambah napsu makan ayam. Selain memberikan obat yang diberikan bersama dengan air minum, juga diberikan obat secara suntikan pada ayam yang sudah parah. Obat yang diberikan adalah Sulfamix dengan dosis 0.4 cc/kg bobot badan ayam. Hal lain yang perlu dilakukan karena penyakit ini mempunyai penularan yang sangat cepat dan luas, ayam yang terkena Snot harus sesegera mungkin dipisahkan dari kelompoknya. Belakangan ini telah dikembangkan vaksin coryza yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.
                                                                                
K.    CONTOH HEWAN YANG TERSERANG CORYZA
Ayam menjadi hospes utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti ayam mutiara, dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relatif tahan. Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibodi maternal.
1.      AYAM
Penyakit Snot atau coryza
a.       Ayam yang secara klinis telah terinfeksi menunjukkan Gejala sebagai berikut:
1.      Pengeluaran cairan air mata
2.      Ayam terlihat ngantuk dengan sayapnya turun atau menggantung
3.      Keluar lendir dari hidung, berwarna kekuningan dan berbau khas
4.      Pembengkakan didaerah sinus infra orbital
5.      terdapat kerak dihidung dan Rongga hidung mengeluarkan lendir kental yang lengket dan  berbau busuk.
6.      napsu makan dan minum menurun sehingga terjadi penurunan produksi.
7.      Getah radang dalam trachea dan bronchi dapat menghasilkan bunyi ngorok.
8.      Sering kali dibarengi diare dan ayam dapat menjadi kerdil.

b.      Perubahan Pascamati
1.      Selaput lendir hidung dan sinus mengalami peradangan katar yang akut.
2.      Peradangan katar selaput mata.
3.      Busung bawah kulit pada muka dan tulang.
4.      Radang paru dan radang kantung udara

c.       Diagnosa
      Contoh penyakit berupa tampon nanah dari hidung dan mata serta potongan jaringan dari alat pernapasan terutama batang tenggorok dan cabang tenggorok dikirimkan ke laboratorium dalam keadaan segar dingin untuk pengasingan dan identifikasi bakteri. Bahan pemeriksaan ini hendaknya diambil dari kejadian penyakit yang baru untuk menghindari pencemaran oleh bakteri sekunder.
Diagnosa banding (mempunyai kemiripan) dari penyakit coryza / snot adalah Mikoplasmosis atau Chronic Respiratory Disease (CRD),Swollen Head Syndrome (SHS) dan Infectious Laryngotracheitis (ILT).

d.      Pencegahan
1.      Ayam yang sakit pilek dipisahkan dari kandang (kelompok) ayam yang sehat.
2.      Jangan mencampur ayam yang umurnya berbeda.
3.      Kandang dan lingkungan harus selalu dalam keadaan bersih.
4.      Usahakan dalam kandang terkena sinar matahari.

e.       Perlakuan dalam Pemotongan
Ayam yang sakit pilek dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi.Bangkai ayam yang mati dan sisa pemotongan dibakar atau dikubur.

f.       Pengobatan
Obat kimia yang bisa digunakan antara lain:
Sulfatiasol.
Sulfadimetoksin.
Streptomisin.
Sulfametasin.
Sulfamerasin.
Eritromisin.
Vibravet (soluble powder) dengan takaran 4 gram dicampur 1 liter air minum, diberikan 4-5 hari.

g.      Ramuan jamu tradisional yang dapat digunakan:
Tepung beras padi 150 gram.
Kencur 100 gram, ditumbuk halus.
Jahe sebanyak 25 gram atau kurang lebih 1 jari tangan, diparut.
Bahan tersebut digilas dengan pipisan (lumpang) hingga halus dan tercampur merata.
Ramuan ini dibentuk pil sebesar biji jagung, lalu dijemur hingga kering.
Pil disuapkan dua kali sehari (pagi dan sore)

L.     KASUS DI LAPANGAN
       Jenis ayam yang dijadikan objek pengamatan pada tugas ini adalah ayam layer strain lohmann. Peternakan ini sudah menerapkan vaksinasi Coryza pada umur 57 dan 122 hari. Vaksin yang digunakan adalah vaksin inaktif coryza T Sus pada umur 57 hari dan coryza T pada umur 122 hari dengan aplikasi penggunaan melalui injeksi intramuskuler sebanyak 1 dosis tiap ekor (0,5 ml tiap ekor). Vaksin Coryza T dipilih dengan harapan agar mampu melindungi dan membentuk antibodi terhadap serangan Coryza serotipe A, B dan C. Saat vaksinasi kondisi ayam dipastikan dalam keadaan sehat dengan tujuan agar pembentukan antibodi menjadi optimal.
Pada umur 20 minggu ada salah satu ayam yang terindikasi terkena gejala coryza yaitu bengkak disekitar sinus infraorbitalis, pada area lubang hidung terdapat eksudat kental berwarna kuning. Penyebab ayam ini terkena penyakit coryza ada banyak antara lain: saat di vaksin kondisi ayam tidak sehat (pengamatan kondisi kesehatan dilihat secara massal bukan secara individu), faktor vaksinator yang kurang tepat dalam proses vaksinasi. Faktor tersebut dapat mempengaruhi pembentukan antibodi sehingga pada saat terjadi serangan Coryza ayam yang tidak mempunyai antibodi yang cukup akibatnya dapat terserang Coryza. Hal yang dilakukan pemilik peternakan ketika ada salah satu ayam yang terindikasi terkena Coryza segera mengobati ayam yang sakit tersebut dengan antibiotik dan memperketat biosecurity (penyemprotan kandang, peralatan dan pengunjung yang masuk dalam area kandang) dengan tujuan agar serangan Coryza tersebut tidak menular ke ayam lain.
Antibiotik yang digunakan adalah Gentamin yang mengandung gentamicin sulfate. Gentamicin sulfate bekerja dengan mengikat reseptor di ribosom 30S, yang menyebabkan terjadinya penghambatan sintesis protein dan gangguan pembentukan membran sel pada bakteri penyebab Coryza. Aturan pakai gentamin sebanyak 0,2-0,25 ml tiap kg bobot badan yang disuntikkan secara intramuskuler selama 3 hari berturut-turut menggunakan automatic injection. Pada saat pengobatan obat juga dicampur dengan B komplek injeksi dengan tujuan menambah nafsu makan dan mempercepat proses penyembuhan. Dosis yang digunakan sebanyak 0,5 ml tiap bobot badan ayam.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Melihat pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Infectious Coryza (Snot) menyerang ternak unggas. Infectious coryza disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum yang menyerang saluran pernafasan pada unggas. Penularan infectious coryza dapat melalui kontak langsung antara unggas yang terserang dengan unggas yang sehat, dapt juga melalui pakan dan minum unggas. Tingkat kematian unggas akibat penyakit ini tergolong rendah tetapi morbiditas nya tinggi, dapat menyebabkan penurunn bobot badan pada unggas pedaging dan menurunkan produksi telur pada unggas petelur serta meningkatkan jumlah unggas afkir pada sebuah usaha peternakan unggas.



Ketentuan berkomentar :

* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati

* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
EmoticonEmoticon