Wednesday, May 18, 2016

Gangguan Reproduksi Pada Sapi Dan Cara Penanganannya Ke 4

Untuk gangguan reproduksi pada ternak sapi yang ke 4 adalah disebabkan oleh Kesalahan Manajemen. Untuk anda yang belum membaca gangguan yang pertama dapat membacanya dibawah ini: 
baca juga: Gangguan Reproduksi Pada Sapi Dan Cara Penanganannya Ke 1
ganguan ke 2 dapat dibaca dibawah ini:
baca juga: Gangguan Reproduksi Pada Sapi Dan Cara Penanganannya Ke 2
dan gangguan yang ke 3 dapat di baca dibawah ini:
baca juga: Gangguan Reproduksi Pada Sapi Dan Cara Penanganannya Ke 3

Kesalahan Manajemen
Faktor manajemen sangat erat hubungannya dengan faktor pakan/nutrisi. Jika tubuh kekurangan nutrisi terutama untuk jangka waktu yang lama maka akan mempengaruhi fungsi reproduksi, efisiensi reproduksi menjadi rendah dan akhirnya produktifitasnya rendah. Kekurangan nutrisi akan mempengaruhi fungsi hypofisis anterior sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH rendah (karena tidak cukupnya ATP), akibatnya ovarium tidak berkembang (hipofungsi). Pengaruh lainnya pada saat ovulasi, transport sperma, fertilisasi, pembelahan sel, perkembangan embrio dan fetus. Kekurangan nutrisi yang terjadi pada masa pubertas sampai beranak pertama maka kemungkinannya adalah birahi tenang, defek ovulatory (kelainan ovulasi) gagal konsepsi, kematian embrio/fetus. Nutrisi yang sangat menunjang untuk saluran reproduksi diantaranya: protein, vitamin A, mineral atau vitamin. 

Selain nutrisi tersebut di atas, yang perlu diperhatikan adalah adanya ransum yang harus dihindari selama masa kebuntingan karena dapat menyebabkan abortus, diantaranya: racun daun cemara, nitrat, ergotamin, naphtalen, khlor, dan arsenik. Kalau pakan yang kurang atau kondisi lingkungan yang buruk berjalan lama, maka hipofungsi ovarium selanjutnya akan berubah menjadi atropi ovarium. Atropi avarium adalah ovarium yang ukuran lebih kecil dari normal, permukaan licin, karena tidak ada pertumbuhan folikel sehingga proses reproduksi sama sekali tidak berjalan. Kondisi fisik tubuh ternak ini buruk, gejala gejala klinisnya juga anestrus yang berkepanjangan. Keadaan atropi ovarium harus dibedakan dengan hipoplasia ovarium yang disebabkan oleh faktor genetis. Kondisi ovariumnya sama yaitu lebih kecil dari ukuran normal, tetapi penderita hipoplasia ovarium memiliki keadaan fisik tubuh yang jauh lebih baik.
Gangguan Reproduksi Pada Sapi Dan Cara Penanganannya


Pakan sebagai faktor yang menyebabkan gangguan reproduksi dan kemajiran sering bersifat mejemuk, artinya kekurangan suatu zat dalam ransum pakan diikuti oleh kekurangan zat pakan lainnya. Sebagai contoh sapi perah, kekurangan protein dalam ransum sering diikuti oleh kurangnya mineral dan vitamin. Kelebihan pakan dalam ransum yang berlangsung dalam waktu lama dan menyebabkan kegemukan (obesitas) dapat juga menyebabkan gangguan reproduksi. Pemberian ransum sebanyak 40% diatas kebutuhan baku, pada awal proses reproduksi mungkin belum terlihat pengaruh terhadap kesuburan ternak, tetapi bila diperhatikan pada periode reproduksi berikutnya, pengaruh itu mudah terlihat dengan munculnya gangguan reproduksi pada induk ternak tersebut. Pada sapi yang menderita obesitas ada timbunan lemak di berbagai organ tubuh, antara lain terjadi penimbunan lemak disekitar ovarium dan bursa ovari. Timbunan lemak ini menyebabkan sel telur yang diovulasikan terhalang masuk tuba falopii dan tetap tertahan pada bursa ovarium, sehingga tidak terjadi proses pembuahan.

Sumber: Ratnawati, D., Wulan C. P., Dan Lukman A. S. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Loka Penelitian Sapi Potong Jln. Pahlawan Grati No. 2 Grati Pasuruan 67184. Isbn 978-979-8308-69-7.

Ketentuan berkomentar :

* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati

* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
EmoticonEmoticon