page hit counter -->

TINGKAH LAKU TERNAK ANTARA INDUK DAN ANAK

Semua makhluk hidup, termasuk hewan memiliki ciri-ciri salah satunya yaitu iritabilitas/ menanggapi rangsang. Adanya kepekaan hewan terhadap rangsangan baik yang datangnya dari dalam maupun luar, maka hewan tersebut akan memberikan prilaku/ respon yang berbeda-beda sesuai dengan rangsangan yang diberikan. Ternak akan bertingkah laku karena menanggapi adanya rangsangan tersebut, diantaranya adalah tingkah laku makan dan minum, tingkah laku induk-anak, tingkah laku sexual, tingkah laku berlindung, tingkah laku berkumpul, dan tingkah laku menyingkirkan kotoran. Perilaku merupakan suatu aktivitas yang perlu melibatkan fungsi fisiologis. Setiap macam perilaku melibatkan penerimaan rangsangan melalui panca indera. Perubahan rangsangan-rangsangan ini menjadi aktivitas neural, aksi integrasi susunan syaraf dan akhirnya aktivitas berbagai organ motorik, baik internal maupun eksternal untuk mempertahankan proses keseimbangan agar proses metabolisme di dalam tubuh dapat berlangsung secara normal.
Tingkah laku hewan didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun eksternal. Dapat juga didefinisikan sebagai respons hewan terhadap stimulus/rangsangan. Tingkat kematian anak setelah kelahiran pada ternak ruminansa dan babi secara nyata mempengaruhi tingkat keuntungan pada satu usaha peternakan dan juga kemajuan genetika melalui pengaruhnya terhadap seleksi diferensial.
Kebanyakan kematian anak terjadi beberapa hari setelah kelahiran dan mungkin dapat disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor. Faktor-faktor ini termasuk karakteristik induk dan anak yan dalam hal ini mungkin disebabkan oleh faktor genetika atau pengaruh faktor lingkungan dan atau interaksi antara faktor-faktor tersebut. Faktor tersebut antara lain adalah : bobot lahir, “litter size”, kemampuan induk, dan daya tahan anak yang baru dilahirkan. Kematian anak dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti iklim, jumlah ternak dalam kandang/padang rumput, keadaan lokasi, tingkat pakan selama masa akhir kebuntingan, dan interaksi yang kompleks diantara faktor tersebut yang mempengaruhi kekuatan ikatan induk dan anak.
A.  Rumusan Masalah
1.   Apakah yang dimaksud dengan tingkah laku induk-anak?
2.   Bagaimanakah tingkah laku induk-anak pada ternak terjadi?
B.  Tujuan Penulisan
1.   Untuk mengetahui pengertian tingkah laku induk anak.
2.   Untuk mengetahui tingkah laku anatara induk dan anak pada masing-masing ternak.

PEMBAHASAN
A.  Tingkah Laku Induk-Anak
Perilaku (tingkah laku) adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya. Hal itu merupakan kegiatan yang diarahkan dari luar dan tidak mencakup banyak perubahan di dalam tubuh yang secara tetap terjadi pada makhluk hidup. Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus dari luar. Reseptor diperlukan untuk mendeteksi stimulus itu, saraf diperlukan untuk mengkoordinasikan respons, efektor itulah yang sebenarnya melaksanakan aksi. Perilaku dapat juga disebabkan stimulus dari dalam. Hewan yang merasa lapar akan mencari makanan sehingga hilanglah laparnya setelah memperoleh makanan. Lebih sering terjadi, perilaku suatu organisme merupakan akibat gabungan stimulus dari luar dan dari dalam (Suhara, 2010).
TINGKAH LAKU TERNAK ANTARA INDUK DAN ANAK
Mukhtar (1986) dalam Pandanwati (2009) menyatakan bahwa pola perilaku dapat dikelompokkan ke dalam 9 sistem perilaku yaitu sebagai berikut :
1.   Perlaku ingestive , yaitu perilaku makan dan minum
2.   Shelter seeking (mencari perlindungan), yaitu kecenderungan mencari kondisi lingkungan yang optimum dan menghindari bahaya.
3.   Perilaku agonistik, yaitu perilaku persaingan atau persaingan antara dua satwa sejenis, umum terjadi selama musim kawin.
4.   Perilaku sexsual, yaitu perilaku peminangan (courtship behaviour), kopulasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan antara satwa jantan dan betina satu jenis.
5.   Care giving atau epimelitik atau perilaku pemeliharaan, yaitu pemeliharaan terhadap anak (maternal behaviour) dan memberi bantuan kepada individu lain yang menderita tekanan (succorant behaviour).
Tingkah laku hewan didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun eksternal. Dapat juga didefinisikan sebagai respons hewan terhadap stimulus / rangsangan. Tingkat kematian anak setelah kelahiran pada ternak ruminansia dan non ruminansia secara nyata mempengaruhi tingkat keuntungan pada satu usaha peternakan dan juga kemajuan genetika melalui pengaruhnya terhadap seleksi diferensial. Kebanyakan kematian anak terjadi beberapa hari setelah kelahiran dan mungkin dapat disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor.
Faktor-faktor ini termasuk karakteristik induk dan anak yang dalam hal ini mungkin disebabkan oleh faktor genetika atau pengaruh faktor lingkungan dan atau interaksi antara faktor-faktor tersebut. Faktor tersebut antara lain adalah : bobot lahir, “litter size”, kemampuan induk, dan daya tahan anak yang baru dilahirkan. Kematian anak dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti iklim, jumlah ternak dalam kandang/padang rumput, keadaan lokasi, tingkat pakan selama masa akhir kebuntingan, dan interaksi yang kompleks diantara faktor tersebut yang mempengaruhi kekuatan ikatan induk dan anak. Maternal behaviour antara lain adalah :
1.   Perilaku induk Pra-Partus (sebelum melahirkan)
2.   Perilaku induk ketika pastus (melahirkan)
3.   Perilaku pasca partus (setelah melahirkan)
B.  Tingkah Laku Induk-Anak pada Ternak (Maternal Behaviour)
1.   Kelinci
a.   Perilaku induk kelinci pra-partus
Beberapa hari sebelum kelahiran anak-anak kelinci, sang induk akan terlihat gelisah, keluar masuk kotak sarang, menggaruk-garuk kandang,nafsu makan sedikit berkurang dan induk yang sangat protektif akan cenderung menyerang jika akan di pegang. Ini merupakan perilaku alamiah kelinci, yang perlu di lakukan adalah cukup memberi perhatian dan ketenangan, yang harus dilakukan adalah memberikan rumput kering di dalam kotak sarang dan sedikit rumput kering di luar kotak sarang. Dan membiarkan induk menyalurkan nalurinya mengangkat rumput kering tersebut ke dalam kotak sarangnya.
b.   Perilaku induk ketika partus
Beberapa jam sebelum kelahiran sang induk akan mencabuti bulu di bawah perutnya dan di kumpulkan di kotak sarangnya. Perilaku ini mengindikasikan sang induk sudah akan melahirkan anak-anaknya. Ini masa yang sangat penting, jadi peternak yang baik akan membiarkan induk kelinci memiliki privasinya agar induk menyelesaikan kelahiran anak-anaknya sendiri. Pada kondisi yang sekiranya kritis pada induk barulah peternak
c.   Perilaku induk ketika pasca-partus
Sesaat setelah di lahirkan anak-anak kelinci terlihat sangat tidak berdaya. Peternak tidak perlu khawatir jika induk langsung meninggalkan kotak sarang setelah membersihkan anak-anaknya. Pada kondisi ini naluri sang induk sangatlah baik. Yang perlu di lakukan oleh peternak adalah memenuhi seluruh kebutuhan kelinci pada masa ini dengan cara: memberikan ketenangan, makanan, keamanan dan kenyamanan selama masa menyusui.
Namun pada praktiknya terdapat induk yang tidak mau menyusui anaknya. Hal ini terjadi karena :
1)   kebersihankandang, kandang yang besih menjadikan kelinci peliharaan kita kerasan dan tidak mudah stres. Selain itu kandang yang kotor dan pengap dapat menjadi tempat hidup bakteri dan parasit sehingga menjadi penyakit. Kalau induk sudah tidak nyaman di dalam kandangnya mustahil akan merawat anak-anaknya dengan baik.
2)   Kurang pahamnya peternak akan waktu menyusui anak kelinci. Anak kelinci menyusuhnya sebentar kira-kira 2-3  menit dan waktunyapun tertentu, paling sering malam hari mulai lepas maghrib, tengah malam atau pada waktu subuh.  Biasanya peternak awal belum pernah melakukan pengamatan ini sehingga menganggap anak kelinci tidak dirawat induknya.
3)   peternak sering memegang anak kelinci dengan tangan telanjang, perlakuan seperti ini kurang baik karena induk kelinci mempunyai indera pembau yang sangat sensitive sehingga akan mengenali anak-anaknya. Andai anak kelinci dipegang peternak dengan tangan telanjang, induk akan mengira itu bukan anaknya.  Sehingga dalam perkembangannya anak akan dibiarkan oleh induknya sehingga anak kelinci mengalami kematian.
4)   Karena ada induk yang bersifat kanibal, induk yang  mempunyai sifat kanibal mempunyai tanda-tanda sangat agresif dan suka melukai anak-anaknya hingga berdarah sehingga anak kelinci ada yang mati. Saran mengatasi kanibal sebaiknya ketika menyusui, induk diberi makanan/nutrisi yang bagus dan jangan pernah kekurangan.
5)   Karena sempitnya kotak anak kelinci. Kotak yang digunakan sebagai tempat melahirkan anak-anak kelinci ini apa bila sempit akan berakibat fatal yaitu seringnya terinjak-injak induk yang akan menyusui anaknya.
2.   Babi
a.   Perilaku induk babi Pra-Partus
Membuat sarang ; tiga hari sebelum partus tiba, tempat diluar kandang menggali tanah (lekukan), tempat didalam kandang membuat tumpukan jerami. Induk babi biasanya melahirkan anaknya pada sarang yang telah dibangunnya.
b.   Perilaku ketika partus
Jalinan induk-anak pada babi tidak sebaik ungulata, sehingga memungkinkan pemeliharaan anak oleh induk lain (fostering) pada induk babi yang melahirkan bersamaan tetapi terpisah apabila pengaturan jumlah anak dilakukan sebelum anak berumur 1 minggu dan sebelum susunan anak pada putting terbentuk. Induk babi tidak menjilati atau membersihkan anaknya. Secara alami setelah “terengah-engah” karena belum bernafas beberapa saat setelah lahir, anak babi kemudian akan terbatuk, bernapas dalam dan baru kemudian dapat bernafas dengan normal. Terdapat persaingan yang sangat ketat antar anak untuk mendapatkan putting susu terdepan yang memiliki produksi susu terbesar hingga terbentuk susunan anak pada putting susu secara permanen.
c.   Perilaku pasca-partus
1)   Pemeliharaan anak.
Perlu perhatian terhadap anak yang berumur 1-4 hari post partus supaya anak tidak terjepit induk, setelah 4-10 hari post partus diasuh keluar kandang.kemampuan regulasi dan pertahanan suhu tubuh anak babi kurang berkembang dibanding ternak ungulata sehingga memerlukan sarang untuk membantu mempertahankan suhu tubuh. Mekanisme bersarang dapat meningkatkan resiko kematian anak akibat tertndih induknya di sarang sebesar 20%. Terdapat beberapa kasus induk kanibal yang memakan anaknya.
2)   Menyusui
Posisi induk menyusui berbaring/berdiri, biasa terjadi suckling order diantara anak, biasanya ambing pectoral (dada) lebih besar dari pada ambing inguinal (perut), anak dg. Berat badan tinggi dapat ambing yang pectoral, frekwensi menyusui : 18-28 kali/hari  4-8 menit. Karakteristik khusus nursing pada babi adalah menunjukkan tingkah laku komplek dalam mengasuh anak dan menyusui (teat order). Menyusui dalam interval yang cukup pendek (50-60 menit). Induk membutuhkan stimulasi piglet. Proses milk let down yaitu :
a)   Fase 1
Pada awalnya piglet berdesakan di sekitar ambing, memassage ambing dan putting dengan moncongnya. Induk bersuara “grunt” perlahan dengan interval teratur sebagai tanggapan. Setiap seri grunt berbeda frekuensi, suara,dan keras lemahnya yang mengindikasikan tahapan kesiapan menyusui dar induk bagi piglet. Fase kompetisi dan menyodok ambing dengan moncong selama 1 menit berakhir ketika susu mulai diekskresikan
b)   Fase 2
Berikutnya adalah fase menyusu, dimana piglet menghisap putting melalui mulutnya dengan gerakan lambat (1x/detik)
c)   Fase 3
Setelah berjalan lebih dari 20 detik, interval grunt dari induk akan meningkat dan suaranya mengeras, fase puncak tahap ini tidak diikuti dengan peningkatan ekskresi susu bahkan ada kecenderungan menurun, piglet mengimbangi dengan meningkatkan intensitas menghisap 3x/detik. Pada fase ini terjadi peningkatan sekresi hormon oksitosin dari pituitary dan peningkatan ekskresi MLD, baru kemudian selama 10 – 20 menit terjadi puncak ekskresi susu kemudian berhenti.
d)   Fase 4
Piglet tetap memassage ambing dan menghisap putting untuk menginformasikan status kebutuhan nutrisinya kepada induk yang akan disediakan pada saat ekskresi susu selanjutnya.
3)   Tingkah laku anak babi
Piglet tidak dibersihkan oleh induknya, berebut putting , perlu potong gigi, strata social, makan, bermain
4)   Pembentukan teat order pada anak babi :
Dalam waktu beberapa jam setelah kelahiran hingga 2 minggu anak babi menjadi mampu mengenali posisi putting dan lebih menyukai menyusu dari bagian anterior dibanding posterior Stimulasi putting bagian anterior berpengaruh terhadap inisiasi milk let down, Sehingga penting untuk menjamin bahwa putting susu anterior ditempati oleh anak babi yang sehat dan kuat Teat order berfungsi sebagai tipe penguasaan territori, hingga terbentuk susunan keluarga yang relatif stabil bagi anak babi. Perkelahian sering terjadi untuk memperebutkan teat order, namun bisa terhensi dengan sendirinya ketika sudah tercipta siapa pemenang dan hierarkhinya. Top order piglet bisa dipisahkan dari induk dan pigglet sekelahirannya hingga 25 hari dan mash diterima dan mendapatkan teat order yang sama setelah dikembalikan. Tetapi sebaliknya jika yang dipisahkan adalah bottom order piglet, ketika dikembalikan dan jika telah terjadi “rearrangement teat order” maka piglet akan dianggap bukan lagi sebagai anggotanya dan ditolak/diserang jika bergabung. Direkomendasikan untuk tetap menggabungkan dan tidak merubah kelompok sekelahiran hingga masa pemotongan/ penyembelihan
3.   Kuda
Masa bunting 340+-5 hari, kelahiran terjadi pada malam hari meskipun ada juga kecenderungan terjadi pada dini hari. Setelah melahirkan mare akan tetap rebah beberapa saat sambil menyodok-nyodok foal. Kontak tersebut merupakan awal terbentuknya ikatan induk  anak secara intensive yang bahkan lebih besar dibanding kedekatan dengan kawanannya.2 jam setelah lahir anak kuda berdiri, kemudian berjalan mengikut induknya. Mare seringkali menggigit, menyodok bahkan menendang untuk menjauhkan foal dari kawanannya. Anak kuda suka menggigit kaki induknya, pada umur 3-4 minggu suka berkelahi. Sebagian besar anak kuda selalu mengikuti induknya dan kurang bersosialisasi dengan kawanannya. Mare baru mengijinkan foal bergabung dengan kawanannya setalah dirasa cukup memiliki kemampuan. Hubungan mengasuh anak pada kuda dapat terjadi hingga kurun waktu 2 tahun.
4.   Ayam
a.   Proses pembentukan telur
Proses ini berjalan selama 24-25 jam, melalui saluran reproduksi yang terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, vagina dan cloaca. Dimana seluruh bagian tersebut disebut sebagai oviduct.
b.   Perilaku ketika bertelur
Tanda-tanda menjelang bertelur adalah : gelisah, mengeluarkan suara dan mencari sarang atau tempat untuk bertelur. Anak ayam turun segera setelah 24 – 26 jam menetas. Memiliki sifat meniru induk maupun ayam lainnya. Kesendirian dan rasa tercekam ditandai dengan menciap-ciap. Pada saat dewasa : kanibal, saling bertengkar, patuk mematuk, berebut pakan (saat seperti ini sering muncul peck order).
c.   Pre laying behavior pada ayam
Pada sistem pemeliharaan beralas litter, tingkah laku sebelurm bertelur hampir mirip dengan tingkah laku natural. Didahuli dengan fase mencari sarang yang nyaman untuk bertelur; pemilihan bidang sarang untuk bertelur dan kemudian diikuti dengan pembuataan nest hollow/cekungan untuk bertelur. Permasalahan yang terjadi tergantung pada ukuran pen dan jumlah sarang yang tersedia. Keterbatasan sarang dan interaksi aggressive merupakan faktor utama penyebab banyaknya “floor eggs”. Ayam lebih menyukai bertelur di dekat tempat terjadi kopulasi dibandingkan dengan tempat yang terisolasi, namun tetap membutuhkan suana yang nyaman dan tenang
d.   Tingkah laku pada saat oviposisi pada ayam
Ayam lebih menyukai bertelur dengan menghadap serong kedepan dengan bidang miring kedepan. Inisiasi terjadinya kanibalisme lebih banyak terjadi jika ayam menghadap ke dalam nest box. Jika terjadi penundaan oviposisi akibat lighting inferior, ataupun keterbatasan nest box, retensi telur pada uterus sering mengakibatkan deposisi ekstra calcium pada permukaan kulit telur. Hal tersebut mengakibatkan tampak lapisan seperti debu pada permukaan kulit telur dan tentunya menambah ketebalan telur dan mereduksi kemampuan pertukaran udara jika telur akan ditetaskan.
e.   Tingkah Laku Post Laying Ayam
Ayam menduduki telur yang telah dikeluarkannya selama + 0.5 jam. Meningkatkan resiko pemendekan masa simpan telur konsumsi dengan mencegah pendinginan telur secara cepat disamping peningkatan kontaminasi mikrobia. Pada sistem roll way nest boxes hal ini dapat direduksi, karena telur akan segera dikeluarkan dari sarang. Memberikan peluang untuk menduduki telur dapat meningkatkan hasrat untuk mengeram, hal ini dapat terjadi meskpun pada jenis ayam petelur yang sudah terseleksi secara genetis. Resiko lain yang muncul adalah munculnya peluang bagi ayam untuk memakan telurnya sendiri. Pada awalnya dapat terjadi dengan mengkonsumsi telur yang retak / pecah, namun ayam yang memiliki pengalaman memakan telur biasanya akan terus berlanjut dengan memakan telur yang retak bahkan jika tidak menemukan akan memecahkan telur yang utuh. Solusi perbaikan management, pengurangan lighting.
f.    Tingkah laku anak ayam
1)   Mengenal induk
Ikatan induk – anak terbentuk dengan adanya panggilan / suara induk untuk menunjukkan makanan pada anak (maternal feeding call)
peran induk terbatas pada proteksi dan mengajarkan mengenal pakan edible maupun inedible
2)   Hubungan dalam kelompok
Agresi dilakukan dalam rangka membentuk hierarkhi / pecking order yang stabil. Pecking order mulai muncul beberapa minggu setelah menetas dan baru mulai stabil setelah berumur 6 – 8 minggu.
3)   Makan
Tingkat ketergantungan terhadap induk sebatas pada kebutuhan broodiness dan brooding system. Pada jenis unggas lain tingkat ketergantungan cukup tinggi (berbagai jenis burung contoh merpati, burung hantu dsb.) Social relationship bisa terbangun dengan sendirinya (imprinting tidak terfokus; jika didampingi induk imprinting fokus pada induk)
5.   Kambing
Secara umum tanda-tanda kelahiran induk kambing dan domba itu sama, yaitu sebagai berikut
a.   Induk sering bengong dan menggaruk-garukkan kakinya
b.   Jika ada dalam kandang kelompok, induk biasanya akan meyendiri
c.   Merejan dan keluar cairan dari vulva
Anak yang baru lahir dibersihkan induknya, plasenta dimakan oleh induknya. Anak kambing yang menyusu akan timbul ikatan sosial. Bila anak dipisahkan dari induk: induk mau menerima bila pemisahan hanya 4-5 menit, dengan terlebih dahulu anak dicium-ciumkan dahulu.  Makin tua umur anak, ikatan social makin longgar. Anak mulai menyusu : 2-3 jam post natal. Kedua putting dihisap bergantian 2-3 kali (20-30 detik/putting). Anak yang lahir sering kelaparan sehingga rentan kematian  karena:
a.   Tidak berhasil menemukan putting susu. Menyebabkan semangat menyusu dari anak kambing turun.
b.   Induk belum berpengalaman akan menolak anak menyusu.
Pada kambing liar, penjilatan atau pembersihan bulu oleh induk terhadap anak yang baru lahir digunakan oleh induk untuk memberi tanda pada anaknya. Jadi anak lain yang telah kontak dengan induk mereka tidak akan diterima oleh induk lain, tetapi anak lain yang tidak pernah mengadakan kontak dengan induk aslinya dapat diterima dengan baik.
6.   Domba
Tingkah Laku Induk selama dan sebelum Kelahiran terjadi hubungan timbal balik yang intensif antara induk – anak. Induk hewan ungulata menjilati membran dan cairan plasenta anak yang baru lahir. Sedangkan anak itu sendiri berusaha untuk berdiri dan mencari putting susu induk untuk mendapatkan kolostrum yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Induk tidak membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali anaknya, tetapi anaknya memerlukan beberapa hari untuk mengenal induknya dan jika lapar akan mendekati siapa saja dan bahkan bukan induknya sendiri untuk menyusu selama berminggu-minggu.
Hal yang sangat kritis bagi anak adalah belajar menyusu untuk dapat minum kolostrum, dan kemudian susu biasa dari induknya. Lama waktu yang diperlukan sejak induk domba sejak pertama menunjukkan rasa gelisah hingga melahirkan dan anaknya jatuh ketanah bervariasi antara 1 menit hingga 3 jam. Kegiatan dilanjutkan dengan menjilati anaknya sering diikuti dengan suara bernada rendah dan berat. Penjilatan dimulai dari kepala kemudian bergerak ke bagian punggung dan ekor. Intensitasnya sangat tinggi sesaat setelah kelahiran, kemudan menurun menjadi 75 % dalam waktu 15 menit pertama, dan menjadi 10 % dalam waktu 4 jam setelah kelahiran.
Penjilatan dengan diawali dari kepala memberikan kesempatan bagi anak yang hidungnya telah bersih untuk mudah bernafas, disamping berfungsi untuk membersihkan cairan amnion dan membentuk jalinan antara induk – anak. Intensitas jilatan yang diterima anak pertama domba biasanya lebih besar dibanding anak kedua atau ketiga jika terjadi kelahiran kembar. Cairan amnion mempunyai peranan penting dalam penerimaan anak oleh induk domba melalui proses penjilatan. Tingkah laku dan karakterstik anak tampaknya juga mempengaruhi perkembangan tingkah laku keindukan dengan mempengaruhi timbulnya sifat menjilati dan tingkah laku keindukan. Pada beberapa kasus induk domba lebih tertarik pada anak induk lain yang berumur 12-24 jam dibanding anaknya sendiri.
Periode sensitif atau kritis untuk jalinan/ikatan induk-anak berlangsung kira-kira 20-30 menit pertama setelah kelahiran, walaupun beberapa peneliti menyatakan bahwa proses ini berlangsung sampai waktu 4 jam. Induk domba yang dipisahkan dari anaknya setelah kontak selama 30 menit dapat membedakan anaknya dari anak – anak lainnya bila mereka dikumpulkan kembali. Jika pemisahan dilakukan sesaat setelah kelahiran mengakibatkan induk kesulitan mengidentifikasi anaknya, dan resiko ini dapat diturunkan jika pemisahan dilakukan 2 – 4 hari setelah kelahiran pada saat ikatan sempurna telah terbentuk.
7.   Sapi
Anak sapi akan mulai berdiri setelah 45 menit dilahirkan, 2 s.d. 5 jam kemudian akan mencari putting induknya, induk sudah harus pada posisi bisa berdiri (karakter menyusui dengan berdiri). Mekanisme identifikasi anak – induk dilakukan melalui vokalisasi, olfactory (penciuman) and vision. Calf akan menyodok ambing dan putting induknya untuk merangsang terjadinya mekaniasme laktasi. Induk dengan permasalahan kelahiran membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiri, sehingga anak sulit mengakses susu “butuh bantuan peternak”. Mekanisme menyusu biasa diawali dengan menyusu pada putting bagian depan, induk secara aktif menolak menyusui anak sapi lain (sangat individualis). Nilai hertabilitas induk dengan mothering ability yang baik pada sapi relatif rendah. Karakteristik tingkah laku anak : melonjak, menendang, mencakar, mendengkur, bersuara dan mengadu kepala (butting). sapi jantan lebih sering menunggangi dan mendorong anak sapi betina (buller rider syndrome). Induk sapi menjilati urogenital dan rectal untuk menstimulasi urinasi dan defekasi. Mekanisme ini diatur secara hormonal. Anak kembar mendapatkan perlakuan “grooming” lebih sedikit dibanding anak tunggal. Kontak yang terjadi 5 menit setelah kelahiran akan menciptakan ikatan yang sangat kuat antara induk – anak
Pada ternak sapi, jalinan antara induk dengan anak yang terlahir kembar lebih lemah dibanding induk yang melahirkan anak tunggal yang ditunjukkan dengan frekuensi menjilati kedua anaknya yang lebih rendah dibanding kelahiran tunggal. Kontak induk – anak pada sapi setelah 3 menit kelahiran sudah cukup untuk membangun jalinan yang baik antara induk – anak. Pemisahan sampai 5 jam sesudah lahir memberikan suatu kemungkinan 50% penerimaan induk terhadap anaknya sendiri, dan pemisahan lebih dari 24 jam menyebabkan penolakan secara permanen oleh induk. Pengenalan induk oleh anak pada sapi sebagaimana ternak lainnya membutuhkan waktu beberapa hari, dan bila lapar akan terus mendekati induk lainnya sebelum mampu mengidentifikasi induknya.

Simpulan
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan:
1.   Tingkah laku ternak muncul karena rangsangan atau stimulus dari luar.
2.   Rangsangan tersebut bisa berupa: ancaman, suhu dan kelembaban lingkungan, pengaruh individu lain.
3.   Perilaku suatu ternak merupakan akibat gabungan stimulus dari luar dan dari dalam.
4. Setiap ternak mothering ability atau maternal behavior, namun tinggi rendahnya berbeda-beda. Babi memiliki mothering ability yang rendah. Berbeda dengan ternak ruminansia yang kebanyakan memiliki mothering ability yang tinggi.
5. Untuk mengatasi rendahnya mothering ability ini memerlukan peran/bantuan dari manusia (peternak).

DAFTAR PUSTAKA
Suhara. 2010. Ilmu Kelakuan Hewan (Animal Behaviour). Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Mukhtar, A. S. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tingkah Laku Satwa (Ethologi). Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Departemen Kehutanan, Bogor.
Pandanwati, Dayani. 2009. Perilaku yang Berhubungan dengan Aktivitas Makan Bajing Tiga Warna (Callosciurus prevostii) pada Siang Hari di Penangkaran. Institut Pertanian Bogor.
http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/05/tingkah-laku-hewan-induk-anak.html. Diakses pada tanggal 22 April 2014 pukul 09.30 WIB.
http://kingsrabbit.blogspot.com/2010/10/persiapan-pra-dan-pasca-kelahiran-anak.html. Diakses pada tanggal 23 April 2014 pukul 12.30 WIB
Teysar Adi S., S.Pt, M.Si, 2007, Diktat Tingkah Laku Ternak
Sub Kajian : Tingkah Laku Induk Anak, Universitas Diponegoro, Semarang.
http://kelinci.wordpress.com/2008/01/01/saat-hendak-melahirkan/. Diakses pada tanggal 23 April 2014 pukul 12.45 WIB

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel