Friday, November 28, 2014

LAPORAN PRAKTIKUM PENETASAN TELUR

A.    Latar Belakang
Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk dari produk-produk unggas luar negeri. Produk unggas, yakni daging ayam dan telur, dapat menjadi lebih murah sehingga dapat menjangkau lebih luas masyarakat di Indonesia. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan yang cukup berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis di dalam negeri. Tantangan global ini mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70 % dari biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor.
Telur merupakan makanan yang disediakan unggas untuk pertumbuhan embrionya, dari embrio awal ssampai terbentuk anak ayam yang siap menetas. Pada perkembangan akhir isi telur akan semakin habis, yang tersisa hanya sedikit kuning telur yang akan dimanfaatkan oleh anak ayam selama sekitar 2 hari. Itulah sebabnya telur pada mamalia berbeda dengan telur pada unggas.
Menetaskan telur ayam berarti mengeramkan telur agar menetas dengan tanda kerabang telur terbuka atau pecah sehingga anak ayam dapat keluar dan dapat hidup. Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penetasan telur pada induk dan mempergunakan mesin penetas atau incubator. Oleh karena itu, penetasan telur bertujuan untuk mendorong industri perunggasan dalan penyediaan bibit unggul dalam jumlah besar.

TINJAUAN PUSTAKA
A.    Persiapan Penetasan
Mesin tetas merupakan mesin penetasan yang mempunyai prinsip kerja seperti pada induk ayam pada saat mengerami telur. Mesin tetas diusahakan memenuhi berbagai syarat yang sesuai untuk perkembangan struktural dan fisiologi dari embrio anak ayam. Dalam pembuatan alat tetas perlu dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan parameter biologi yang meliputi temperatur, kelembaban udara dan sirkulasi udara. Pada alat penetasan semua faktor-faktor tersebut dapat diatur dengan baik sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan sesuai dengan kondisi proses biologi penetasan (Nesheim et al., 1979).
Sebelum digunakan peralatan penetasan disucihamakan dahulu. Semua alat dicuci bersih dan disemprot dengan obat pembasmi hama. Juga bisa digunakan alkohol 70% untuk bahan penyemprot. Selanjutnya alat dikeringkan dan dimasukkan dalam ruang penetasan (Chan dan Zamrowi, 19943).
Alat pemanas dihidupkan dan diatur jarak penyetekan antara temperatur 99-102oF dengan cara mengatur jarak dengan memutar gagang pelatuk pada switch diantara regulator dengan switch. Setelah temperatur yang diinginkan tercapai (temperatur konstan), dibiarkan sampai satu jam sambil dikontrol (Soedjarwo, 1999). Begitu juga untuk kelembaban udara. Bak air diisi dengan air jangan sampai penuh dan dimasukkan ke dalam alat penetas. Diatur kelembabannya antara 55-60%. Pengaturan dilakukan dengan menambah atau mengurangi air dalam bak. Untuk lebih mudahnya biasanya bak diisi air 2/3 bagian dan dibiarkan sampai kelembaban konstan (Nuryati et al., 1998).
Telur biasanya tidak bisa langsung dapat dimasukkan ke dalam alat penetasan, mengingat ada periode tertentu untuk persiapan penetasan telur. Untuk itu diperlukan waktu penyimpanan sebelum penetasan. Masa penyimpanan sebaiknya tidak lebih dari 7 hari, karena penyimpanan yang melebihi waktu tersebut akan menurunkan prosentase penetasan telur tetas (Nesheim et al., 1979).
Kelembaban udara sangat penting mengingat untuk mempertahankan laju penguapan air di dalam telur. Akibat penguapan udara ini akan membesar kantung udara. Kelembaban udara dapat dilihat pada higrometer dan mengaturnya dengan cara menambah atau mengurangi air di dalam bak air. Pada kerabang telur terdapat ribuan pori-pori mikro untuk pertukaran gas. Oleh karena itu untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada 65-70%. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70% (Shanawany, 1994).

B.     Telur
Telur merupakan salah satu produk pangan hewani yang lengkap kandungan gizinya. Selain itu telur merupakan bahan makanan yang mudah dicerna. Sebutir telur terdiri dari 11 % kulit telur, 58% putih telur dan 31% kuning telur (Sudaryani, 2003). Telur mempunyai kandungan air, protein, lemak, karbohidrat dan abu berturut-turut sebesar 66,5; 12,01; 10,5; 0,9; dan 10,9% (Hardini, 2000).
Telur tetas merupakan telur yang didapatkan dari induknya yang dipelihara bersama pejantan dengan perbandingan tertentu. Telur tetas mempunyai struktur tertentu dan dan masing-masing berperan penting untuk perkembangan embrio sehingga menetas. Agar dapat menetas telur sangat tergantung pada keadaan telur tetas dan penanganannya (Nuryati, et al., 1998).
Telur unggas secara umum mempunyai struktur yang sama. Terdiri dari enam bagian yang penting untuk diketahui, yaitu kerabang telur (egg shell), selaput kerabang telur (membrane shell), putih telur (albumen), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih (germinal disk) (Nesheim et al., 1979).
Telur tetas yang normal berbentuk bulat telur atau oval. Telur dengan bentuk bulat atau tgerlalu lonjong merupakan telur abnormal sehingga mempengaruhi posisi embrio menjadi abnormal yang mengakibatkan telur banyak yang tidak menetas (Nuryati, et al., 1998). Letak rongga udara harus normal yaitu pada bagian yang tumpul dan simetris berada di tengah-tengah (Chan dan Zamrowi, 1993).

C.    Proses penetasan
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai telur pecah menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh induk ayam atau secara buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Telur yang digunakan adalah telur tetas, yang merupakan telur fertil atau telur yang telah dibuahi oleh sperma, dihasilkan dari peternakan ayam pembibit, bukan dari peternakan ayam petelur komersil (Suprijatna et al., 2005).
Pada prinsipnya penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama seperti telur yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi telur. Dalam proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan di banding dengan penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan sewaktu-waktu, dapat dilakukan dengan jumlah telur yang banyak, menghasilkan anak dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat dilakukan pengawasan dan seleksi pada telur (Yuwanta, 1983).
Penetas ( pemanas dari listrik ) yang menggunakan tenaga listrik dilengkapi dengan lampu pijar dan seperangkat alat yang disebut termostat (termoregulator). Alat ini dapat mengatur suhu di dalam ruangan penetasan secara otomatis. Jika panasnya melebihi batas yang kita tentukan, maka termoregulator akan bekerja memutus arus listrik, akibatnya lampu pijar menjadi mati. Demikian suhu udara di dalam mesin tetas tetap stabil. Apabila dengan waktu tertentu ruangan atau kotak itu suhunya rendah, maka termostat bekerja kembali untuk menyambung arus dan lampu pijar menyala pula ( Marhiyanto, 2000 ).
Menurut Shanawany (1994), untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada 65 – 70 %. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70 %. Cara lain dengan melihat pada kaca ventilasi masin tetas. Bila pada kaca terdapat butir-butir air berarti kelembaban terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kaca segera dilap sampai kering, ventilasi dibuka dan bak air dikeluarkan.

D.    Tahap Akhir Penetasan
Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi penetasan. Hal-hal yang dievaluasi meliputi fertilitas, mortalitas dan daya tetas. Menurut Tri-Yuwanta (1983), fertilitas adalah perbandingan antara telur fertil dengan telur yang ditetaskan dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas adalah jumlah embrio yang mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam persen. Daya tetas adalah jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur fertil yang dinyatakan dalam persen.
Daya tetas menurut Shanaway (1994), dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1.            Berat telur
Berat telur yang terlalu besar atau terlalu kecil menyebabkan menurunya daya tetas. Berat telur yang ditetaskan harus seragam dengan bangsa dan tipenya.
2.            Penyimpanan telur
Penyimpan paling lama 1 minggu. Penyimpanan diatas 4 hari menyebabkan Daya tetas menurun sebesar 25 % setiap hari. Untuk telur baru, penyimpanan pada temperatur 21-230C menyebabkan physiological zero, artinya embrio dalam kondisi tidak mengalami pertumbuhan. Temperatur optimum, untuk penyimpanan telur adalah sebesar 16-18 0C dengan RH 75-80%.
3.            Tempeteratur
Temperatur optimuim pada permukaan atas telur 39-39,5 0C.
4.            Kelembaban
Kelembaban yang trepat membantu agar pertumbuhan embrio sempurna dan normal. Kelembaban yang optimal adalah sebesaqr 65-70%.
5.            Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk distribusi panas dan kelembaban mengeluarkan CO­­2 dan suplai O­­2. kelembaban minimal sebesar 18%.
6.            Posisi dan Pemutaran telur
Berfungsi untuk meratakan panas serta menjaga agar embrio tidak menempel pada kerabang telur. Setiap pemutaran germinal disc akan bersentuhan dengan nutrien yang segar. Tanpa pemutaran kekurangan nutien dan oksigen.
7.            Nutrisi induk
Defisiensi pada induk dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan menyebabkan kematian embrio.
8.            Kesehatan Induk
Apabila induk tidak sehat maka dapat mengganggu transfer nutrien ke dalam telur, sehingga embrio kekurangan nutrien. Akibat selanjutnya dapat menurunkan daya tetas.
9.            Infeksi bakteri/ virus
Infeksi bakteri/virus pada telur dapat menyebabkan kematian embrio.

E.     DOC (Day Old Chick)
DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting. DOC yang baik ditandai dengan kriteria sebagai berikut:
  1. Berat badn memenuhi berat ideal, yaitu 35 g atau sesuai berat badan standar, yaitu tidak kurang dari 32 g. Berat badan DOC berkorelasi positif terhadap laju pertumbuhan ayam.
  2. Berperilaku gesit, lincah, dan aktif mencari makan. Jika dipegang akan bereaksi, kotoran tidak lengket di dubur.
  3. Posisi dalam kelompok selalu tersebar.
  4. Rongga perut elastis, pusar kering tertutup bulu kapas yang halus, lembut dan mengkilap.
  5. Mata bulat dan cerah (Setiawan, 2010).
Pada 24 jam pertama setelah menetas maka anak ayam masih dibiarkan di dalam alat penetasan dan tidak diberi makan. Hal ini disebabkan di dalam tubuh DOC masih ada persediaan makanan pada yolk. Biarkan cangkang pada tempatnya, karena berguna untuk melatih anak ayam mematuk dan menimbulkan rangsangan makan, karena terdapat sisa-sisa makanan dalam cangkang tersebut (Chan dan Zamrowi, 1993).
Setelah semua telur menetas dan berada 24 jam dalam mesin tetas maka anak ayam diambil dan dilakukan seleksi anak ayam. Selain itu dilakukan aktivitas lain seperti penmotongan paruh, vaksinasi marek untuk ayam layer, packing (pengemasan DOC) ke dalam box, dan penyimpanan sementara sampai anak ayam dikirim ke peternakan (Sudaryani dan Santosa, 2000).

MATERI METODE
Praktikum Teknologi Penetasan Unggas ini dilaksanakan pada tanggal 25 April 2011 sampai tanggal 20 Mei 2011 berlokasi di Laboratorium Ilmu Pengolahan Hasil Ternak, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
A.    Materi
1.      Alat
a.       Mesin tetas tipe semi otomatis
b.      Semprotan (sprayer)
c.       Desinfektan / antiseptik
2.      Bahan
a.       Telur tetas (berasal dari daerah Sukoharjo)
B.     Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum adalah :
1.      Seleksi Telur
a.       Memilih telur yang bersih kemudian membersihkan dengan akolhol.
b.      Memberi nomor dan kode pada telur pada dua sisi.
c.       Menimbang telur dan mencatat sesuai dengan nomor.
d.      Mengukur panjang dan lebar telur untuk menghitung indeks telur.
e.       Menempatkan telur dengan posisi bagian tumpul di atas pad rak telur.
2.      Proses Penetasan
a.       Mengatur suhu dan kelembaban dalam mesin tetas.
b.      Memasukkan telur yang sudah dibersihkan apabila suhu sudah stabil.
c.       Memakai antiseptik sebelum memutar telur.
d.      Memutar telur setiap hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Persiapan Penetasan
Tabel 1. Pengamatan Telur Tetas
No

Kualitatif



Kuantitatif


Telur
Kondisi
Kebersihan
Bentuk
Warna
Berat (gram)
Panjang (mm)
Lebar (mm)
Indeks (%)
1
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
40
4,92
3,82
77,64
2
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
46
5,19
4,05
78,03
3
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
45
5,22
4,96
95,02
4
Utuh
Bersih
Bulat telur
Krem
41
4,80
3,87
80,63
5
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
40
4,93
3,79
76,88
6
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
43
5,10
3,90
76,47
7
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
43
5,19
3,78
72,83
8
Utuh
Kotor
Bulat telur
Putih
38
4,80
3,79
78,96
9
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
41
5,15
3,82
74,17
10
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
35
4,76
3,69
77,52
11
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
48
5,28
4,04
76,52
12
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
45
5,20
3,95
75,96
13
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
42
5,15
3,88
75,34
14
Utuh
Kotor
Bulat telur
Putih
39
5,04
3,79
75,20
15
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
37
4,77
3,77
79,04
16
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
36
4,19
3,74
89,26
17
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
44
5,20
3,90
92,86
18
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
37
4,82
3,79
78,63
19
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
44
5,13
3,95
77,00
20
Utuh
Bersih
Bulat telur
Krem
44
5,09
3,93
77,21
21
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
35
4,69
3,76
78,25
22
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
39
4,94
3,81
77,13
23
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
48
5,36
4,03
75,19
24
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
40
5,01
3,81
76,05
25
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
50
5,41
4,10
75,79
Sumber : Laporan Sementara
Telur yang digunakan dalam praktikum Teknologi Penetasan Unggas ini sebanyak 25 butir. Telur tersebut berasal dari Sukoharjo dengan strain untuk jantan yaitu ayam Haylen dan betina ayam Kate. Perbandingan rasio antara jantan dan betina adalah 1 : 4. tanggal bertelur dari telur tetas ini yaitu pada tanggal 27 April 2011. Nama pemilik dari telur tetas yang digunakan dalam praktikum ini adalah Bp. Putut.
Berdasarkan hasil pengamatan dari 25 telur tetas tersebut terdapat sebagian telur yang tidak semuanya bersih. Telur yang kotor dan agak kotor dibersihkan dengan alkohol 70%, caranya yaitu mengusap menggunakan tisu pada permukaan telur dengan searah. Bentuk dari telur tetas semuanya normal atau bulat telur, tidak ditemukan telur dalam keadaan abnormal. Warna dari telur tetas ini adalah putih dan krem. Dari pengamatan diatas juga diperoleh panjang dan lebar telur yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung dan mengetahui indeks telur.
B.     Proses Penetasan
Tabel Data Candling I
No. Telur
Hasil Pengamatan
1
Ada pembuluh darah
2
Ada pembuluh darah
3
Ada pembuluh darah
4
Ada pembuluh darah
5
Ada pembuluh darah
6
Ada pembuluh darah
7
Ada pembuluh darah
8
Ada pembuluh darah
9
Ada pembuluh darah
10
Ada pembuluh darah
11
Ada pembuluh darah
12
Ada pembuluh darah
13
Ada pembuluh darah
14
Ada pembuluh darah
15
Ada pembuluh darah
16
Ada pembuluh darah
17
Ada pembuluh darah
18
Ada pembuluh darah
19
Ada pembuluh darah
20
Ada pembuluh darah
21
Ada pembuluh darah
22
Ada pembuluh darah
23
Ada pembuluh darah
24
Ada pembuluh darah
25
Ada pembuluh darah
Sumber : Laporan Sementara
Tabel Data Candling II
No. Telur
Hasil Pengamatan
1
Agak terang
2
Gelap
3
Gelap
4
Gelap
5
Gelap
6
Gelap
7
-
8
Gelap
9
Gelap
10
Gelap
11
Gelap
12
Gelap
13
Gelap
14
Gelap
15
Gelap
16
Gelap
17
Gelap sebagian
18
Gelap
19
Gelap
20
Gelap
21
Gelap
22
Gelap
23
Gelap
24
Gelap
25
Gelap
Sumber : Laporan Sementara
Tabel Data Candling III
No. Telur
Hasil Pengamatan
1
Agak terang
2
Gelap
3
Gelap
4
Gelap
5
Gelap
6
Gelap
7
-
8
Gelap
9
Gelap
10
Gelap
11
Gelap
12
Gelap
13
Gelap
14
Gelap
15
Gelap
16
Gelap
17
Gelap
18
Gelap
19
Gelap
20
Gelap
21
Gelap
22
Gelap
23
Gelap
24
Gelap
25
Gelap
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 6. Pengaturan ventilasi alat tetas
Hari ke-
Pengaturan Ventilasi
-3
Tertutup seluruhnya
4
Terbuka ¼ bagian
5
Terbuka ½ bagian
6
Terbuka ¾ bagian
7-21
Terbuka seluruhnya
Sumber : Laporan Sementara
Pemutaran telur bertujuan untuk meratakan panas yang diterima telur dan menghindari embrio lengket pada sisi kerabang. Pada penetasan alami, tiap 15-20 menit induk melakukan pemutaran telur sehingga dalam sehari dilakukan 72-96 kali pemutaran. Pada penetasan buatan, pemutaran secara manual dilakukan sebanyak 3-9 kali (ganjil), sedangkan bila pemutaran secara otomatis dapat tiap satu jam sekali.
Peneropongan telur dilakukan tiap tiga kali selama proses penetasan telur, yaitu hari ke-7, 14 dan 18 dengan menggunakan alat peneropong telur (candling lamp). Peneropongan telur bertujuan untuk mengetahui telur kosong atau infertil, telur hidup yang ditandai dengan adanya tunas dengan cabang-cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan titik atau lingkaran berwarna kehitaman.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, pemutaran telur dilaksanakan 5 kali sehari yaitu pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 13.00, 15.00 WIB. Cara pemutaran telur yaitu dengan memutar dari bagian kiri atau kanan sesuai tanda yang sudah dibuat, telur diputar dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Seedangakan untuk candling atau pemutaran telur dilakukan 3 kali selama proses penetasan, hasil dari peneropongan telur dicacat. Candling pertama dilakukan pada tanggal 6 Mei 2011 dengan hasil semua telur terdapat pembuluh darah. Candling kedua dilakukan pada tanggal 13 Mei 2011 dengan hasil telur nomor 1 agak terang, telur nomor 7 dipecah sebagai contoh untuk mengetahui perkembangan embrio, telur nomor 17 gelap sebagian dan sisanya gelap. Candling ketiga dilakukan pada tanggal 17 Mei 2011 dengan hasil sama dengan candling kedua, kecuali telur nomor 17 menjadi gelap.

C.    Tahap Akhir Penetasan
Tabel 7. Data Perlakuan terhadap DOC
Nomor telur tetas
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Mati
Menetas
Menetas
Mati
Mati
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Mati
Mati
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Mati
Mati
Sumber : Laporan Sementara
Penetasan telur yang dilakukan pada telur ayam dalam praktikum ini adalah sebanyak 25 butir. Telur yang ditetaskan di dalam mesin tetas selama penetasan ada yang nenetas 15 butir dan yang tidak menetas 10 butir. 5 dari DOC yang ditetaskan mengalami kematian, hal tersebut dikarenakan kelembaban mesin tetas kurang jadi anak ayam kering di dalam cangkang saat akan mencoba keluar. Walaupun dibantu praktikan, anak ayam tetap tidak bisa keluar karena lengket dengan cangkang. Sedangkan 10 DOC yang hidup kondisinya lemas karena kedinginan, tetapi DOC tetap dapat bertahan dan tumbuh normal.
Kegagalan dapat terjadi dalam proses penetasan dengan mesin tetas. Menurut Sudrajat (2001) bahwa kegagalan menetas pada telur-telur tetas disebabkan oleh kualitas telur juga disebabkan oleh kualitas faktor mesin tetas itu sendiri, antara lain (1) Suhu mesin tetas tidak stabil, misalnya listrik mati atau suhu mesin tetas sering naik turun (2) Udara dalam mesin tetas terlalu kering (3) Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dan (4) Kurang tepatnya dalam membalik telur dalam mesin tetas sehingga embryo dalam telur mati.
Tahap akhir dalam proses penetasan yakni segera setelah DOC dikeluarkan maka segera dilakukan sanitasi pada mesin tetas. Cara-cara sanitasi alat tetas yang selesai digunakan antaralain : (1) Membuang dan membersihkan kulit telur yang menetas dan telur yang tidak menetas dari rak telu, (2) Membersihkan bak air, (3) Mengeluarkan termometer dari mesin tetas dan membersihkannya, (4) Membersihkan seluruh kotoran yang ada didalam kotak penetasan telur.
D.    Evaluasi Penetasan
Dalam suatu usaha penetasan, masalah masalah yang selalu harus dijaga adalah mencegah atau menekan kegagalan penetasan sekecil mungkin. Besar atau kecilnya jumlah yang menetas menentukan kelangsungan usaha penetasan itu atau menentukan usaha pemeliharaan selanjutnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah sulitnya untuk mengetahui apakah usaha penetasan itu akan berhasil atau tidak. Sebab, walaupun seorang pelaksana penetasan yang telah bekerja baik, semua syarat diperhatikan dengan baik, seperti alat tetas, ruang penetasan dan lain-lain, masih saja ada telur yang tidak menetas atau anak-anak ayam yang menetas dalam wujud yang tidak normal (Rasyaf, 1990).
Pada candling/peneropongan I dilakukan pada hari ke-7 setelah telur dimasukkan mesin tetas. Berdasarkan candling I diperoleh data bahwa fertilitas telur tetas sebesar 92 %. Dari 25 butir telur yang ditetaskan terdapat 2 butir yang infertil. Tanda-tanda telur hidup yang ditandai dengan adanya tunas dengan cabang – cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan titik atau lingkaran berwarna hitam.
Pada candling II angka fertilitas telur tetas sebesar 92 %, karena pada candling II ini dari telur ayam yang masih ada terlihat adanya urat-urat darah pada semua telur. Mortalitas pada candling II ini adalah 8 %, karena semua telur fertil terdapat embrio yang hidup. Candling II ini dilakukan pada hari ke-14 setelah telur dimasukkan mesin tetas.
Candling III dilakukan pada hari ke- 21 dan didapatkan angka mortalitas sebesar 8 % dan fertilitas 92 %. Dari telur yang masih ada yaitu: 23 butir telur ayam, tidak terdapat telur yang fertil.
Menurut Rasyaf (2002), telur yang tidak menetas menjadi lebih banyak bila menggunakan mesin tetas dibandingkan dengan pengeraman dengan induk ayam. Kesalahan temperatur, kelembaban mesin tetas atau terlalu banyak menggunakan obat pembunuh kuman dapat menyebabkan banyak telur yang tidak menetas.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan yaitu mortalitas dari candling I sampai candling III tidak mengalami penurunan. Daya tetas telur merupakan indikator banyaknya anak ayam yang menetas dari sejumlah telur yang bertunas. Dari hasil perhitungan diperoleh daya tetas sebesar 65,2 % dan kualitas tetas sebesar 60 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
1.      Kesalahan-kesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas.
2.      Kesalahan-kesalahan teknis dari petugas yang menjalankan mesin tetas atau kerusakan teknis pada mesin tetas.
3.      Iklim yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga mengakibatkan menurunnya daya tetas telur.
4.      Faktor yang terletak pada ayam sebagai sumber bibit, antara lain sebagai berikut:
a.       Sifat Turun Temurun: Telur tetas yang berasal dari babon dengan daya produksi tinggi bukan saja fertilitasnya yang tinggi, tetapi juga daya tetasnya tinggi.
b.      Perkawinan: Perkawinan antara keluarga dekat (tanpa seleksi) kadang-kadang menghasilkan telur-telur yang daya bertetas rendah
c.       Makanan: Defisiensi vitamin (A,B2, B12,D,E dan asam pantothenat dapat menyebabkan daya tetas telur berkurang).
d.      Perkandangan : Temperatur dalam kandang yang terlalu dingin atau terlalu panas akan menurunkan daya tetas telur
Telur yang mempunyai fertilitas tinggi pada umunya mempunyai daya tetas yang tinggi pula. Namun, untuk menghasilkan telur yang daya tetasnya tinggi, perlu memperhatikan beberapa syarat berikut ini :
1.      Telur tidak terlalu besar, tetapi tidak terlalu kecil.
2.      Umur telur tetas antara 1-6 hari. Umur telur yang melewati hari tersebut cenderung daya tetasnya menurun.
3.      Telur berasal dari induk dan pejantan yang sehat
4.      Telur dalam keadaan bersih
5.      Kulit telur rata.
6.      Telur tidak cacat atau rusak.
7.      Telur berbentuk oval atau bulat telur.
(Jayasamudera, 2005).

KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
  1. Persiapan yang dilakukan untuk penetasan telur yaitu pemilihan telur dengan warna yang seragam, tidak retak, tidak kotor, tekstur halus dan berbentuk bulat atau oval.
  2. Pengaturan ventilasi selama penetasan
·         Hari ke-4 ventilasi dibuka ¼ bagian.
·         Hari ke-5 ventilasi dibuka ½ bagian.
·         Hari ke-6 ventilasi dibuka ¾ bagian.
·         Hari ke-7 sampai menetas dibuka seluruhnya.
  1. Pemutaran telur dimulai pada hari keempat, dan selama penetasan dilakukan pemutaran sebanyak 5 kali sehari.
  2. Peneropongan telur bertujuan untuk mengetahui telur kosong/ infertil, telur hidup yang ditandai dengan adanya tunas dengan cabang-cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan titik/ atau lingkar berwarna kehitaman.
  3. Peneropongan (candling) dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada hari ke-7, hari ke-14, dan hari ke-21.
  4. Penanganan alat penetasan yaitu dibersihkan dengan air dan disemprot dengan disinfektan serta sisa cangkang dikeluarkan dan dibersihkan.
7.      Dari hasil prakikum diperoleh 15 telur yang menetas dan 10 telur menetas. DOC yang mati sebanyak 3 ekor dan DOC yang bertahan hidup 10 ekor.
B.     Saran
  1. Pengumuman tentang praktikum sebaiknya diperjelas agar tidak terjadi miss komunikasi antara assisten dan praktikan.
  2. Jadwal pengumpulan laporan jangan terlalu mepet karena banyak bab yang harus dibahas.

DAFTAR PUSTAKA
Chan, H. dan M. Zamrowi. 1993. Pemeliharaan dan Cara Pembibitan Ayam Petelur. Penerbit Andes Utama. Jakarta.
Hardini, S. Y. P. K. 2000. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Konsumsi dan Telur Biologis terhadap Kualitas Interior Telur Ayam Kampung. Laporan Hasil Penelitian.
Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nesheim, M. C., R. E. Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamin dan P. S. Hardjosworo. 1998. Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
________., 2002. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana Rahmat. 2003. Ayam Buras: Intensifikasi dan Kiat Pengembangan. Kainisius. Jakarta.
Setiawan, Iwan. 2010. Tipe DOC (Day Old Chick). http://centralunggas.blogspot.com/2010/01/tipe-doc-day-old-chick.html. Di download pada tanggal 12 Juni 2011.
Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United Nations. Rome.
Soedjarwo, E. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudrajad. 2001. Beternak Ayam Vietnam untuk Aduan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suprijatna, E., Umiyati, a., dan Ruhyat, K., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tri-Yuwanta. 1983. Beberapa Metode Praktis Penetasan Telur. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Marhiyanto, B. 2000. Suksses Beternak Ayam Arab. Difa Publiser. Jakarta.

Ketentuan berkomentar :

* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati

* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
EmoticonEmoticon