Friday, October 17, 2014

Penyakit Kolera Pada Unggas

BAB I. PENDAHULUAN

Penyakit kolera dapat menyerang pada peternakan ayam petelur. Serangan penyakit ini dapat menurunkan produksi telur. Disamping itu telur merupakan kebutuhan pangan hewani yang semakin meningkat di dalam negeri seiring dengan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani. Pemenuhan kebutuhan pangan hewani tersebut diperlukan keseimbangan akan efisiensi manajemen produksi telur ayam, salah satunya adalah manajemen kesehatan ayam petelur.

Penyakit kolera unggas (Fowl cholera) tergolong penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida dan bakteri ini dapat menyerang ayam, kalkun, itik, entok. Penyakit ini lebih sering menyerang ayam umur dewasa dibandingkan dengan ayam muda. Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan berbagai faktor pemicu stress seperti fluktuasi cuaca, kelembaban, pindah kandang, dan transportasi.

Pengendalian dan pengobatan kolera unggas di Indonesia masih mengandalkan pada pemakaian obat-obatan antibiotika. Penanggulangan kolera unggas dengan antibiotika dapat meningkatkan resistensi kuman dan menimbulkan masalah residu pada produk ternak. Kerugian yang diakibatkan oleh penyakit fowl cholera antara lain :
1.  Menurunnya produksi telur,
2.  Morbiditas dan mortalitas meningkat,
3.  Peningkatan biaya pengobatan,
4.  Peningkatan FCR.
Diagnosa yang cepat dan tepat oleh para praktisi lapangan sangat diperlukan sekali untuk menghindari kerugian yang lebih banyak lagi.


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Kolera unggas (fowl cholera) adalah penyakit menular pada unggas dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Penyakit kolera (fowl cholera) disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida yang merupakan bakteri gram negatif (-), berbentuk ovoid, tidak membentuk spora. Penularan penyakit terjadi secara horizontal dimana ayam sehat tertular dengan ayam sakit melalui peralatan kandang, kotoran hewan maupun oleh pekerjanya sendiri. Penyakit kolera unggas memiliki dua bentuk yaitu akut dan kronik. Bentuk akut ditandai dengan hemoragik-septisemia, disertai angka kematian tinggi, sementara yang kronik sering terlihat adanya gangguan pernafasan, torsikolis, radang sendi, pembengkakan kelopak mata, sinus dan pial. Secara pathologi-anatomi perubahannya terbatas pada saluran pernafasan, termasuk kantong udara dan sinus (Akoso, 1993).

Normalnya bakteri ini ada dalam saluran pernafasan dan pencernaan, namun bila dalam keadaan daya tahan tubuh menurun bakteri ini akan menjadi pathogen. Pasteurella multocida bukanlah bakteri yang normal ditemukan di peternakan ayam tetapi bakteri ini merupakan bakteri yang umum ditemukan pada rongga mulut pada berbagai hewan seperti tikus, mencit, anjing dan kucing. Kucing dan tikus diduga sebagai hewan utama yang membawa bakteri ini ke peternakan unggas (Rimler and Glisson, 1997).

Pasteurella multocida pertama diidentifikasi oleh Pasteur, ketika itu beliau bersama rekan-rekannya sedang menyelidiki suatu epidemik penyakit pada ayam dan berhasil mengisolasi bakteri yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Pasteurella. Hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada ayam tersebut sangat menyerupai gejala-gejala kolera pada manusia, dengan demikian mereka menyebutnya sebagai kolera ayam atau fowl cholera (Eli, 1985).

Menurut Christensen dan Bisgaard (2000), tikus, insekta (terutama lalat) dan burung liar juga berperan dalam penyebarannya. Penyakit kolera unggas (fowl cholera) juga dapat ditularkan melalui udara, pakan, air minum, dan bangkai ayam yang tercemar (Biberstein dan Chung Zee, 1990). Kolera unggas terdiri dari dua jenis yaitu akut dan kronis. Kolera unggas akut ditandai oleh adanya kematian mendadak dan mortalitas tinggi. Kolera unggas kronis ditandai oleh adanya gangguan pernafasan dan syaraf, radang persendian, serta pembengkakan dan warna kebiruan (cyanosis) pada balung (jawer) dan pial (Syamsudin, 1980). Pencegahan penyakit kolera unggas dapat dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan sanitasi yang baik dan mengadakan vaksinasi pada ayam petelur umur 2-3 bulan. Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan obat sediaan sulfa dan antibiotika seperti sulfadimetoksin, sulfametazin, tetrasiklin, eritromisin, streptomisin, dan novobiosin (Hofstad et al., 1984).

Penularan penyakit kolera dari manusia ke ayam broiler yaitu manusia dapat terinfeksi oleh Pasteurella multocida ataupun merupakan sumber infeksi bagi unggas melalui leleran dari hidung ataupun mulut. Bakteri ini biasanya masuk kedalam jaringan melalui membrana mukosa laring atau saluran pernafasan bagian atas, tetapi dapat juga masuk melalui konjungtiva ataupun luka pada permukaan jaringan. Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai antibakteri atau antibiotik dengan hasil yang berbeda, karena Pasteurella multocida mempunyai banyak serotipe yang mungkin mempunyai reaksi yang berbeda terhadap berbagai agen kemoterapeutik jenis sulfa, antibiotik, ataupun kelompok flumekuin dan kuinolon mempunyai efektifitas berbeda terhadap pengobatan kolera unggas (Tabbu, 2000).

Pemberantasan vektor pembawa penyakit seperti tikus dan lalat dengan menggunakan insektisida merupakan salah satu pencegahan yang dilakukan. Melakukan kontrol yang teratur dan terprogram terhadap rodentia yang berkeliaran di kandang. Berdasarkan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa vektor tersebut merupakan sumber penularan yang cukup tinggi. Bakteri P. multocida yang umum ditemukan pada rongga mulut pada berbagai hewan seperti tikus, mencit, anjing dan kucing. Kucing dan tikus diduga sebagai hewan utama yang membawa bakteri ini ke peternakan unggas (Glisson, 2002).


BAB III. PEMBAHASAN

A. Kolera (fowl cholera)
Kolera unggas (fowl cholera) adalah penyakit menular pada unggas dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi (Akoso, 1993). Penyakit kolera (fowl cholera) disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida yang merupakan bakteri gram negatif (-), berbentuk ovoid, tidak membentuk spora, menunjukkan struktur bipoler serta kadang-kadang membentuk kapsul yang mengelilingi organisme tersebut. Kemampuan Pasteurella multocida sangat tergantung pada kapsul yang megelilingi organisme tersebut. Apabila kapsul itu hilang maka kemampuan virulensinya juga akan menurun.

Normalnya bakteri ini ada dalam saluran pernafasan dan pencernaan, namun bila dalam keadaan daya tahan tubuh menurun bakteri ini akan menjadi pathogen. Pasteurella multocida bukanlah bakteri yang normal ditemukan di peternakan ayam tetapi bakteri ini merupakan bakteri yang umum ditemukan pada rongga mulut pada berbagai hewan seperti tikus, mencit, anjing dan kucing. Kucing dan tikus diduga sebagai hewan utama yang membawa bakteri ini ke peternakan unggas (Rimler and Glisson, 1997).

Pasteurella multocida pertama diidentifikasi oleh Pasteur, ketika itu beliau bersama rekan-rekannya sedang menyelidiki suatu epidemik penyakit pada ayam dan berhasil mengisolasi bakteri yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Pasteurella. Hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada ayam tersebut sangat menyerupai gejala-gejala kolera pada manusia, dengan demikian mereka menyebutnya sebagai kolera ayam atau fowl cholera (Eli, 1985).

B. Cara Penularan Penyakit
Penularan penyakit terjadi secara horizontal dimana ayam sehat tertular dengan ayam sakit melalui peralatan kandang, kotoran hewan maupun oleh pekerjanya sendiri. Menurut Christensen dan Bisgaard (2000), tikus, insekta (terutama lalat) dan burung liar juga berperan dalam penyebarannya. Penyakit kolera unggas (fowl cholera) juga dapat ditularkan melalui udara, pakan, air minum, dan bangkai ayam yang tercemar (Biberstein dan Chung Zee, 1990). Bakteri menginfeksi ke dalam jaringan tubuh melalui saluran pernapasan dan melalui konjungtiva ataupun luka pada permukaan jaringan. 
Awal mula kuman P. multocida masuk kedalam kandang ternak ayam sulit dideteksi. Tetapi apabila sudah berada di dalam salah satu kelompok/flock maka penyebaran lewat ayam yang terinfeksi sangat mudah terjadi. Rute penularan infeksi kolera unggas dapat terjadi melalui ingesti kuman dari air atau makanan yang tercemar, inhalasi udara yang tercemar dan penularan langsung dari ayam ke ayam lainnya. Lingkungan sekitar dapat tercemar kuman P. multocida dari peralatan dan ayam-ayam yang mati pada infeksi sebelumnya. Selama ini, penyebab utama infeksi pada satu kandang/flock berasal dari infeksi sebelumnya (kronis). Selain itu pekerja kandang juga sumber penyebaran, baik melalui ludah dan ingus yang sembarangan di sekitar kandang. Peralatan dan pakan yang tercemar dapat menjadi sumber penularan apabila tidak dilakukan desinfeksi dan cara penyimpanan yang baik. Secara ringkas, pada saat kuman P. multocida berhasil masuk kedalam flock maka infeksi akan segara terjadi dengan konsentrasi kuman di saluran pernafasan atas, mulai dari rongga mulut (paruh), trakea dan sekitar mata.

Penularan penyakit kolera dari manusia ke ayam broiler yaitu manusia dapat terinfeksi oleh Pasteurella multocida ataupun merupakan sumber infeksi bagi unggas melalui leleran dari hidung ataupun mulut. Bakteri ini biasanya masuk kedalam jaringan melalui membrana mukosa laring atau saluran pernafasan bagian atas, tetapi dapat juga masuk melalui konjungtiva ataupun luka pada permukaan jaringan (Tabbu, 2000).

C. Masa Inkubasi dan Tanda – Tanda Penyakit Kolera
Penyakit kolera unggas memiliki dua bentuk yaitu akut dan kronik. Bentuk akut ditandai dengan hemoragik-septisemia, disertai angka kematian tinggi, sementara yang kronik sering terlihat adanya gangguan pernafasan, torsikolis, radang sendi, pembengkakan kelopak mata, sinus dan pial. Secara pathologi-anatomi perubahannya terbatas pada saluran pernafasan, termasuk kantong udara dan sinus (Akoso, 1993).

Setelah terjadi invasi bibit penyakit ke dalam tubuh, maka ayam akan mengalami bacterimia (bakteri sudah beredar ke seluruh pembuluh darah) tahap awal. Masa inkubasi (waktu mulai masuknya bibit penyakit hingga menimbulkan gejala klinis) berlangsung selama 4-9 hari dan umumnya menyerang ayam berumur 3 bulan ke atas. Tanda - tanda bacterimia biasanya ditandai dengan :
1.    Penurunan nafsu makan
Penurunan nafsu makan pada awalnya ditandai dengan mundurnya waktu habis pakan yang berlanjut dengan menurunnya jumlah konsumsi pakan pada ayam. Apabila ayam menunjukkan penurunan nafsu makan maka peternak harus curiga terhadap indikasi penyakit tertentu atau memang hanya dikarenakan stres.
2.    Ayam tampak lesu dan mengantuk
Dengan adanya penurunan nafsu makan dan minum maka akan berdampak pada kondisi tubuh yang lemah.
3.    Demam yang ditandai dengan kloaka kering dan peningkatan suhu badan mencapai 2-3oC.
4.    Saat kontrol pada malam hari, terkadang akan terdengar suara ngorok disertai sedikit getaran karena adanya lendir.

Dua bentuk penyakit kolera unggas yaitu :
1.    Akut
Gejala akut kerap kali ditemukan pada beberapa jam sebelum terjadi kematian. Gejala yang tampak adalah penurunan nafsu makan, mengalami kerontokan bulu, diare yang awalnya encer kekuningan dan lama-kelamaan akan berwarna kehijauan disertai mucus (lendir), peningkatan frekuensi pernapasan, daerah muka, jengger dan pial membesar       (Akoso, 1993). Menurut Syamsudin (1980) menyatakan kolera unggas akut ditandai oleh adanya kematian mendadak dan mortalitas tinggi.

Kematian dapat berkisar antara 0-20%. Selain itu, kejadian penyakit ini dapat menyebabkan penurunan produksi telur dan penurunan berat badan. Kerugian yang lain adalah meningkatnya biaya pengobatan.

Penyakit akut yang nampak biasanya terkait dengan kerusakan pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan. Perubahan yang terlihat berupa perdarahan ptechiae pada berbagai organ visceral terutama pada jantung, hati, paru-paru, lemak jantung maupun lemak abdominal. Selain itu juga sering ditemukan perdarahan berupa ptechiae (bintik-bintik) dan echimosa (lebam) pada mukosa usus. Hal ini disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler akibat aktivitas endotoksin. Hati akan terlihat membesar dan berwarna belang. Pada kasus akut, tidak jarang pula ovarium pada folikel dewasa membubur atau mengalami perdarahan hemorhagi. Apabila kondisi sudah demikian maka terjadi penurunan produksi.

2.    Kronis
Pada bentuk kronis, dimana penyakit berlangsung lama (berminggu-minggu hingga berbulan-bulan) dengan virulensi bakteri rendah. Gejala yang nampak sehubungan dengan adanya infeksi lokal pada pial, sendi kaki, sayap dan basal otak. Gejala yang terlihat biasanya terjadinya pembengkakkan pada pial, infeksi pada kaki (Akoso, 1993). Menurut Syamsudin (1980) menyatakan kolera unggas kronis ditandai oleh adanya gangguan pernafasan dan syaraf, radang persendian, serta pembengkakan dan warna kebiruan (cyanosis) pada balung (jawer) dan pial.

D. Pencegahan
Prinsip pencegahan penyakit tersebut adalah :
1.  Mengurangi populasi bibit penyakit di sekitar ayam
Cara mengurangi bibit penyakit yang ada di sekitar ayam maka harus melakukan langkah yang ditempuh yaitu dengan istirahat kandang, sanitasi dan desinfeksi kandang beserta peralatannya. Istirahat kandang minimal selama 2 minggu dihitung setelah kandang sudah dalam keadaan bersih dan didesinfeksi.

Di sinilah tujuan istirahat kandang yang sebenarnya sehingga bibit penyakit dapat ditekan seminimal mungkin. Selain dengan istirahat kandang, perlu didukung dengan sanitasi dan desinfeksi secara ketat. Desinfeksi kandang kosong bisa dilakukan dengan menggunakan Sporades, Formades atau Mediklin. 3 hari sebelum chicks in, lakukan kembali penyemprotan kandang beserta peralatannya baik tempat ransum maupun tempat minum dengan menggunakan Medisep.

2.  Mencegah kontak antara bibit penyakit dengan ayam
Meskipun populasi bibit penyakit di lapangan sudah dalam batas minimal, kita tidak boleh lengah sedikitpun serta tetap harus waspada terhadap penularan penyakit karena sumber penyakit tersebut dapat datang sewaktu-waktu, kapanpun dan dimanapun tanpa permisi. Upaya untuk mendukung langkah tersebut maka perlu dilakukan pencegahan kontak antara bibit penyakit dengan ayam. Langkah pencegahan tersebut dengan cara :
a.  Mengatur lalu lintas karyawan, pekerja, tamu, kendaraan, hewan piaraan maupun hewan liar yang bisa menjadi sumber penularan.
b.  Pemeriksaan sumber-sumber air minum karena tidak menutup kemungkinan bibit penyakit masuk melalui air minum. Memberikan antiseptik (Antisep, Neo Antisep atau Medisep) minimal 3x seminggu terutama jika saluran air menggunakan pipa pralon panjang.
c.  Transportasi dan penyimpanan pakan ransum harus benar.
d.  Pemberantasan vektor pembawa penyakit seperti tikus dan lalat dengan menggunakan insektisida. Melakukan kontrol yang teratur dan terprogram terhadap rodentia yang berkeliaran di kandang. Berdasarkan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa vektor tersebut merupakan sumber penularan yang cukup tinggi. Bakteri P. multocida yang umum ditemukan pada rongga mulut pada berbagai hewan seperti tikus, mencit, anjing dan kucing. Kucing dan tikus diduga sebagai hewan utama yang membawa bakteri ini ke peternakan unggas (Glisson, 2002).

3.  Meningkatkan daya tahan tubuh ayam
Ketahanan tubuh ayam paling utama ditentukan oleh faktor ransum yang didukung dengan kondisi lingkungannya. Melakukan monitoring terhadap konsumsi ransum maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan ketahanan tubuh ayam. Daya tahan tubuh ayam akan menjadi lebih baik pada lingkungan dengan kadar amonia rendah, tidak berdebu, cukup oksigen, temperatur dan kelembaban sesuai serta tidak over crowded (kepadatan berlebih), maka yang harus diperhatikan adalah suhu dan kelembabannya, ventilasi kandang serta kualitas litter atau sekam.

Usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh maka dapat dilakukan pemberian multivitamin berupa Fortevit maupun Vitastress yang dapat diberikan melalui air minum. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, vitamin juga berfungsi dalam membantu pertumbuhan dan mengatasi stress, mencegah penyakit akibat kekurangan vitamin serta mampu memperbaiki efisiensi ransum.
1.  Apabila menggunakan kandang litter sebaiknya litter tetap kering.
2.  Mengganti air minum setiap hari.
3.  Mencuci tempat pakan dan tempat minum minimal 2 kali sehari.

Percobaan untuk pengendalian terhadap kolera ayam dengan cara vaksinasi dimulai oleh Pasteur yang menggunakan biakan yang diatenuasi. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa untuk mendapatkan derajat perlindungan yang maksimum adalah penting menggunakan galur/strain yang berkapsul yang antigennya berhubungan dengan serotipe penyebab penyakit (Eli, 1985). Pencegahan penyakit ini juga dapat dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan sanitasi yang baik dan mengadakan vaksinasi pada ayam petelur umur 2-3 bulan (Hofstad et al., 1984).

Program Vaksinasi
Sebelum pelaksanaan vaksinasi, perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan progr am vaksinasi antara lain :
1.  Vaksin harus dirawat dan disimpan dalam keadaan sehat dan tidak dalam kondisi stress.
2.  Ayam yang akan divaksin harus dalam keadaan sehat dan tidak dalam kondisi stress.
3.  Keadaan nutrisi ayam cukup baik.
4.  Keadaan sanitasi kandang dan lingkungan baik.
5.  Pelaksanaan vaksinasi dalam waktu dan umur yang tepat.
6.  Peralatan untuk vaksinasi dalam keadaan baik dan steril.

Vaksinasi terhadap kolera unggas dilakukan pada ayam umur 6-8 minggu dan diulang sewaktu umur 8-10 minggu. Vaksinasi tidak disarankan untuk dilakukan kecuali bila jelas diketahui terjadi kasus penyakit ini. Antibotika dapat dipergunakan untuk pengobatan adalah stertomisin, klorafenikol dan teramisin. Dapat pula menggunakan preparat sulfa dalam air minum atau pakan (Akoso, 1993).

Vaksinasi terhadap kolera ayam dengan vaksin inaktif ataupun aktif kadang kadang dilakukan di peternakan dengan kasus kolera yang sulit diatasi dengan praktek manajemen ketat ataupun pada daerah dengan kejadian kolera yang bersifat endemik. Vaksin kolera biasanya diberikan sekitar umur 13 minggu. Hasil vaksin pada kolera biasanya belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga tindakan tersebut harus selalu didukung oleh praktek manajemen yang ketat (Tabbu, 2000).

E. Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai antibakteri atau antibiotik dengan hasil yang berbeda, karena Pasteurella multocida mempunyai banyak serotipe yang mungkin mempunyai reaksi yang berbeda terhadap berbagai agen kemoterapeutik jenis sulfa, antibiotik, ataupun kelompok flumekuin dan kuinolon mempunyai efektifitas berbeda terhadap pengobatan kolera unggas (Tabbu, 2000).

Antibiotika yang dapat dipergunakan untuk pengobatan adalah streptomisin, kloramfenikol dan teramisin. Dapat pula menggunakan preparat sulfa dalam air minum atau pakan (Akoso, 1993). Menurut Hofstad et al., (1984) menyatakan Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan obat sediaan sulfa dan antibiotika seperti sulfadimetoksin, sulfametazin, tetrasiklin, eritromisin, streptomisin, dan novobiosin.

Pengobatan pada ayam terserang kolera diantaranya :
1.  Preparat sulfa :
a.  Sulfaquinoxalin 0.05% dalam air minum.
b.  Sulfametasin dan sodium sulfametasin 0.5-1.0% dalam makanan atau 0.1% dalam air minum.
c.  Sulfamerasin 0.5% dalam makanan atau 0.2% dalam air minum. Pemberian per oral dengan dosis 120mg/kg bb.
2.  Antibiotika
a.  Stretomycin dapat mencegah kematian bila diberikan pada awal infeksi.
b.  Chloramphenicol.
c.  Teramisin 25mg/kg bb.


BAB III. PENUTUP

 Kolera unggas (fowl cholera) disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida yang secara normal bakteri ini ada dalam saluran pernafasan dan pencernaan. Kejadian Fowl cholera banyak ditemukan di Indonesia. Penyakit kolera unggas ada dua bentuk, yaitu akut dan kronik. Penyakit kolera unggas dapat menyerang ayam, kalkun, itik, entok. Gejala fowl cholera yaitu penurunan nafsu makan, ayam tampak lesu dan mengantuk, demam yang ditandai dengan kloaka kering dan peningkatan suhu badan mencapai 2-3oC, terkadang akan terdengar suara ngorok disertai sedikit getaran karena adanya lendir yang dapat menurunkan produksi telur. Penularan penyakit ini terjadi secara horizontal dimana ayam sehat tertular dengan ayam sakit melalui peralatan kandang, kotoran hewan maupun oleh pekerjanya sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan pada ternak yang terserang penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B.T. 1993. Manual Kesehatan Unggas Cetakan I. Kanisius. Yogyakarta.
Biberstein, E. L. and Yuan Chung Zee,. 1990. Review of Veterinary Microbiology. Blackwell Scientific Publications, Inc. Boston. USA.
Christensen, J. P. and M. Bisgaard. 2000. Fowl Cholera. Rev. Sci. Tech. 19: 626 – 637.
Eli, N.B. 1985. Skripsi: Kemungkinan Pasteurella multocida Sebagai Zoonosis. IPB. Bogor.
Glisson, J.R. 2002. Fowl cholera in commercial poultry. Avian insight. 1: 1 – 4.
Hofstad, M. S., B. W. Calneck, F. F. Helmbolt, W. M. Reid, and H. W. Yoder, Jr. 1984. Diseases of Poultry. 8th Edition. The Lowa State University Press. Ames, Lowa, USA.
Rimler, R.B. and J.R. Glisson. 1997. Fowl cholera. In: Diseases of Poultry. 10th Ed. Calnek, B.W., H.J. Barnes, C.W. Beard, L.R. Mcdougald and Y.M. Saif (Ed.). Iowa State University press, Ames, Iowa. pp. 143 – 161.
Syamsudin, A. 1980. Vaksin Kolera Unggas Otogenous (VKUO) clan penggunaannya . Bull. LPPH, 12(20) :101-105.
Tabbu, C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume I. Kanisius. Yogyakarta.



Ketentuan berkomentar :

* Dilarang menautkan link aktif maupun link mati

* Dilarang berkomentar yang Di Luar Topik (OOT)
EmoticonEmoticon